Tenteramnya Ngadem di Goa Mohammad

goa-muhammad-150x150MOJOKERTO | SURYA Online – Tidak hanya makam Wali Songo yang laris dikunjungi peziarah dari berbagai daerah untuk memanjatkan doa. Goa Mohammad, terletak di sudut Kota Mojokerto tak luput dari kunjungan peziarah.

Mungkin tak banyak orang tahu jika di Dusun Losari, Desa Pekukuhan, Kecamatan Modjosari, Mojokerto terdapat goa dengan kedalaman tujuh meter dari permukaan tanah, tempat ideal memanjatkan doa dan bershalawat. Goa Mohammad, begitu warga Mojokerto menyebutnya.

Goa Mohammad ini sedikit unik, tidak seperti goa-goa lain yang terbentuk karena proses alam dengan keindahan tonjolan batu-batu stalaktit. Goa Mohammad –tersusun dari rangkaian terowongan gelap mirip labirin, murni tersusun dari bahan bangunan modern seperti batu bata, semen, dan pasir.

Di dalamnya terdapat tujuh buah pintu bawah tanah, tujuh buah mata air sumur, lima buah mushala, dua buah sendang tempat orang mandi dan menyucikan diri, dan satu buah Masjid Agung Wisnu Manunggal Rohmatullah yang letaknya tepat di bibir goa. Keseluruhannya menempati lahan seluas 1000 meter persegi.

Adalah Ki Imam Malik Djoko Sembung Satrio Mbalelo, 55, pemilik Padepokan Mayangkoro dan Pondok Pesantren Sambungsari yang mendirikannya pada 1996. “Goa Mohammad terbangun karena sebuah wahyu hasil perenungan kami bersama santri,” ujar Ki Imam Malik. Sebetulnya, bukanlah Ki Imam Malik yang memberi nama doa tersebut dengan nama Goa Mohammad. “Justru peziarah dari Rembang yang menamainya,” ucapnya.

Untuk memasuki wilayah goa ini, Anda hanya perlu menempuh perjalanan darat dari pusat Kota Mojokerto sekitar 10 kilometer. Mencapai lokasinya memang sedikit sulit lantaran tak ada penunjuk jalan tertulis seperti halnya kompleks makam Wali Songo yang telah dijadikan sebagai wisata ziarah secara resmi. Informasi yang bisa didapat hanya tersebar melalui mulut ke mulut warga setempat.

Angkutan umum juga tak ada yang menjangkau hingga lokasi. Sesampai di Jalan Raya Pekukuhan, Anda cukup membayar ojek sebesar Rp 6.000 sekali jalan. “Paling ramai peziarah goa ini setiap sasi 10 Suro,” lanjutnya. Karena pada saat itu terdapat hajat besar berupa Ruwat Puser Mojopahit di kompleks halaman luar goa. Kalau menjelang Ramadan hanya beberapa peziarah yang mampir untuk berdoa.

Tradisi yang dikembangkan para peziarah Goa Mohammad lazimnya memasuki kompleks pemakaman Wali Songo. Mereka diwajibkan berwudhu untuk menyucikan diri. Sementara bagi peziarah perempuan yang sedang menstruasi tidak diperkenankan masuk.

Arsitektur Goa Mohammad hampir tak memiliki kiblat manapun. Namun, menyiratkan sebuah akulturasi budaya Jawa Kuno dan Islam. “Kami membangunnya dari suara hati, mungkin sedikit aneh (dan asal-asalan),” timpalnya tersenyum. Pintu masuk, yang terletak di sebelah selatan bangunan masjid agung, bentuknya mirip pintu masuk Masjid Demak sisi samping.

Hampir di tiap sisi gapura dan dinding goa tertulis serangkaian filosofi Jawa dan rangkaian huruf Hijaiyyah yang intinya mengagungkan kebesaran Gusti Kang Murbeng Dumadi, serta manunggaling Kawula-Rasul-Gusti. “Harusnya kami buat dalam tiga bahasa, ditambah bahasa China. Ini karena kemakmuran sebagian besar diraih bangsa tersebut di negeri kita,” seloroh Ki Imam Malik.

Serba Perlambang
Selain berwudhu, para peziarah dalam memasuki goa tersebut akan dipandu membaca Shalawat Nabi sepanjang berjalan di dalam terowongan. Para santri dengan membawa lilin akan memandu para peziarah, mulai membaca shalawat Nabi, berdoa di tiap mushalla, menyucikan diri di dalam sendang hingga meminum air sumur.

“Mata air sumur tersebut yang lancar mengalir sebetulnya hanya lima, yang satu lagi pernah mengalir tapi entah mengapa beberapa waktu lalu terhenti. Mata air yang satu lagi diprediksi akan muncul di tempat tak terduga sesuai kehendak Gusti Allah,” lanjut M Toha, salah satu santri pemandu dalam Ponpes Sambungsari.

Angka tujuh yang mencerminkan mata air memiliki filosofi tujuh tingkatan langit, angka lima yang mencerminkan jumlah mushalla memiliki filosofi Rukun Islam, sedangkan angka dua yang mencerminkan sendang punya filosofi pasangan Rasul dan Allah. Angka satu yang mencerminkan jumlah masjid berfilosofi keesaan Allah.

“Goa Mohammad sengaja dibangun di bawah tanah untuk tempat berdoa agar ketika kita merenung dan berdoa kita dapat benar-benar meresapi mati sajroning urip lan urip sajroning mati,” jelasnya. Dengan merenung dan berdoa, diharapkan manusia dapat panutan lebih baik. “Tidak seperti sekarang, setiap orang saling menyalahkan orang lain. Mengapa tidak saling mencari kebenaran bersama, bukan adu bener ning ora podo rumongso,” lanjut Ki Imam Malik.

Berziarah ke Goa Mohammad, jangan Anda bayangkan akan ’semeriah’ tempat-tempat makam Wali Songo maupun goa-goa lain yang telah dikemas sebagai paket wisata. Nuansanya jauh dari itu! Hanya kesamaannya sangat lekat dengan kesakralan. Anda tak cuma diajak bertapa tapi juga berdoa. dwi pramesti

“Hentikan Protes, Kami Tidak Akan Tunduk”

By Elin Yunita Kristanti, Harriska Farida Adiati Viva News – Sabtu, Juni 20VIVAnews –agogweqt4

Pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Ali Khamenei menyerukan agar krisis politik dan keamanan pasca pemilihan presiden Iran segera diakhiri. Khomaeni juga menyatakan dukungannya atas pemilu yang memenangkan Mahmoud Ahmadinejad dan memperingatkan pemimpin oposisi, mereka bertanggungjawab jika terjadi pertumpahan darah dan kekacauan.

ADVERTISEMENT

“Mereka akan dimintai pertanggungjawaban jika terjadi kekerasan, pertumpahan darah, dan kekacauan,” kata Khamenei di hadapan jamaah Salat Jumat di Universitas Teheran, Jumat 19 Juni 2009. Dalam pidatonya Khamenei juga mengecam tindakan aparat keamanan, yang menurutnya telah bertindak di luar batas dengan melakukan penyerangan kepada para mahasiswa.

Pemerintah Iran, kata Khomaeni bergeming dari protes. “Aksi jalanan dilakukan untuk menekan pemimpin, tetapi kami tidak akan tunduk di hadapan mereka,” kata Khamanei.

Dia mengatakan, semua keraguan terkait pemilihan kembali Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden dalam pemilihan 12 Juni lalu akan diselidiki melalui jalur hukum. Jika pendukung atau kandidat yang kalah tidak bisa menghentikan protes, Khamanei mengatakan, mereka harus bertanggung jawab atas semua konsekuensi, dan konsekuensi dari segala bentuk kekacauan.

Pidato yang dilakukan Khamanei kemarin jarang terjadi karena biasanya Khamanei hanya berbicara di depan publik di akhir bulan Ramadan dan perayaan revolusi Iran.

Iran berada dalam konflik setelah calon incumbent Mahmoud Ahmadinejad dinyatakan memenangi pemilihan dengan mengantongi 62,63 persen suara. Lawan-lawannya menuding ada kecurangan dalam proses penghitungan suara dan menyebabkan gelombang demonstrasi terbesar sejak Revolusi Iran.

Puluhan ribu orang pro pemerintah maupun oposisi turun ke jalan pasca hasil pemilu Iran diumumkan. Aksi demonstrasi itu berubah menjadi rusuh dan makan korban, stasiun radio Iran mengabarkan, tujuh orang tewas dalam demonstrasi di Teheran, Iran, Senin 15 Juni 2009.

Fordsburg, Kawasan Muslim di Johannesburg, Afsel

Makanan Bersertifikat Halal, Wanita Berjilbab Dihormati

Toleransi kehidupan beragama di Johannesburg sangat tinggi. Hal itu terlihat di Fordsburg. Meski minoritas, muslim di kawasan itu hidup damai dengan warga pribumi.

WAKTU menunjukkan pukul 11 siang waktu setempat atau 16.00 WIB. Dua remaja berjilbab berjalan tenang di pedestrian. Di salah satu sisi jalan ada toko daging bertulisan halal. Masuk ke kawasan Fordsburg, tampak sebuah masjid kubah hijau dengan menara menjulang tinggi, berdiri kukuh di tengah pemukiman dan pertokoan. ”Ini memang kawasan muslim,” kata George, sopir taksi yang dinaiki Jawa Pos.

Kawasan Fordsburg hanya 15 menit dari pusat kota Johannesburg. Menurut George, wilayah ini sudah lama ada di Johannesburg. George kemudian mengantarkan kami untuk singgah di Oriental Plaza yang letaknya berdekatan dengan masjid yang kami lalui tersebut. Sebuah menara berkubah dan bangku untuk bersantai tampak ketika kami memasuki Oriental Plaza.

Lantunan suara ayat suci Alquran terdengar dari menara tersebut. Suara itu semakin kencang ketika langkah kaki kami mendekat ke sebuah tenant di pelataran bagian dalam Kompleks Oriental Plaza. Di dalam tenant, terdapat lukisan dan hiasan kaligrafi Arab yang dipajang di rak.

Pemilik gerai di plasa itu mayoritas berwajah India dan Timur Tengah. Sedangkan para pegawai kebanyakan penduduk pribumi kulit hitam. Peraturan di sana memang mengharuskan pemilik toko untuk mempekerjakan orang pribumi.

Di dalam Kompleks Oriental Plaza mudah ditemui gerai makanan yang menjual menu sehat dan halal. ”Saya garansi, daerah Fordsburg dan sekitarnya 99 persen muslim. Makanan yang dijual di sini sudah mendapat sertifikat halal,” kata M.A. Sackoor, asisten general manajer Oriental Plaza, kepada Jawa Pos di ruang kerjanya.

Sackoor mengaku beruntung menemukan kawasan muslim di daerah Fordsburg. Pria asal India itu menjelaskan, kehidupan beragama antara kaum muslim dengan warga lain di Fordsburg tidak ada masalah. ”Sejauh ini tidak ada masalah. Kami bersahabat dan hidup damai,” tuturnya.

Menurut Sackoor, ada 12 masjid yang tersebar di Fordsburg dan sekitarnya. Masjid-masjid itu pun sangat terawat. ”Ada 12 masjid di sekitar area ini. Jadwal salat di Johannesburg sama dengan waktu Arab,” katanya.

Kawasan Fordsburg memang kental dengan suasana muslim. Bahkan, pemilik tenant yang menyewa di Oriental Plaza pun mayoritas muslim. Hal itu tampak dari wajah, pakaian serta aksesoris yang melekat di badan. Bila dilihat dari wajah, mayoritas kaum muslim di Fordsburg berasal dari India. Kaum pria rata-rata memelihara jenggot. Dalam aktifitas kehidupan sehari-hari, mereka memakai baju gamis dipadu celana panjang. Plus kopiah yang menutupi kepala.

Sedangkan kaum muslimah mayoritas memakai jilbab yang menutupi rambut hingga badan. Ada juga kaum hawa yang tidak mengenakan jilbab, tapi tetap berpakaian yang menutupi aurat. Mereka berbaur dengan warga pribumi yang non muslim.

”Warga pribumi di Fordsburg bersikap baik kepada kami. Itu yang membuat kami merasa aman di sini,” kata Sharifah, gadis asal India yang menetap bersama keluarganya di Fordsburg.

Selain Fordsburg, kawasan muslim juga ada di Marlboro. Mayoritas penduduk di kawasan Marlboro adalah warga muslim keturunan India. ”Sekitar 90 persen warga di Marlboro dan sekitarnya muslim,” kata Zaid, pria asal Malaysia keturunan Indonesia. (*/ca)

MUI: Jangan “Jual” Ayat Al-Quran untuk Kampanye

JAKARTA | SURYA Online – Majelis Ulama Indonesia (MUI), meminta para capres/cawapres serta tim kampanye jangan “menjual” ayat-ayat Al-Quran demi kepentingan kampanye pilpres.

“Ayat Al-Quran jangan dijadikan komoditas politik, harus ditempatkan sesuai peruntukannya,” kata Ketua MUI Pusat KH Amidan usai menyampaikan seruan bersama pimpinan ormas Islam di Kantor Pusat Muhammadiyah Jakarta, Selasa (2/6).

Menurut Amidan, kalau ayat Quran tersebut disampaikan sesuai dengan tempatnya misalkan menyerukan agar semua umat Islam harus mentaati perintah Allah SWT, kepada rasulnya dan kepada pimpinan atau pemerintah, karena pemilu itu merupakan bagian dari pelaksanaan ayat Quran itu tadi.

Namun, jika menjual ayat-ayat Al Quran itu untuk komoditas politik dan kepentingan sesaat bagi kelompok atau golongan tertentu pada saat kampanye, maka hal itu yang tidak boleh dilakukan.

Selain itu, Amidan juga meminta para tim kampanye capres dan cawapres jangan menjadikan isu-isu yang berkaitan dengan kelompok, etnis, agama atau golongan tertentu sebagai alat untuk kepentingan kampanye apalagi untuk menyerang salah satu calon tertentu.

“Kampanye sehat itu mengkritisi program masing-masing, bukan malah mengkritisi atau menyerang orang lain,” kata Amidan.

Ia juga menilai, sudah ada indikasi salah satu anggota tim kampanye calon yang menjadikan isu-isu kelompok etnis atau rasis tertentu disampaikan sebagai alat kampanye.

Oleh sebab itu, Amidan menegaskan, pihaknya sangat menyayangkan pernyataan tersebut dan sudah meminta kepada ketua tim kampanye agar mereka yang menyampaikan pernyataan itu agar dikeluarkan dari timnya.

“Pernyataan itu berbau rasis, berarti menolak keragaman dan itu bisa memancing isu-isu lain,” katanya.

Dalam seruan sejumlah ormas Islam di Kantor Pusat Muhammadiyah mendesak agar capres dan cawapres serta tim sukses masing-masing bersaing secara sehat dengan mengindahkan etika agama serta tidak melakukan kampanye hitam (black campaign).

Hadir pula dalam kesempatan tersebut, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, Ketua PB Mathlaul Anwar Irsyad Djuwaeli dan pimpinan puluhan ormas Islam lainnya. ant

Nilai Perbuatan Baik

20090608173403

Ukuran kualitas iman seseorang, sebagaimana difirmankan Allah dalam Alquran, adalah ahsanu ‘amalan bukan aktsaru ‘amalan (yang terbaik perbuatannya bukan yang terbanyak perbuatannya). Beberapa hadis dalam kitab hadis Sahih Bukhari menyatakan bahwa iman itu ucapan yang disertai perbuatan. Iman dapat berkurang dan bertambah. Dalam beberapa ayat Alquran, kata iman selalu berpadanan dengan amal saleh, sehingga tidak mungkin orang yang beriman tidak beramal saleh. Allah SWT berfirman: ”(Tetapi) orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (Q.S. 84: 25).

Dalam ayat lain, Allah SWT berjanji: ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah keberuntungan yang besar.” (Q. S. 85: 11). Lalu dalam surat Al-‘Ashr, ayat 2 dan 3 juga dinyatakan: ”Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan….”

Karena iman itu bisa bertambah dan berkurang, ia bukan sekadar perkara niat yang bersemayam di dalam hati dan sulit diukur (bertambah dan berkurangnya), tetapi konkret dalam amal perbuatan yang bisa diukur, atau muncul dalam bentuk akhlak yang baik. Wujud iman dalam perbuatan mempunyai dua dimensi. Dimensi pertama melihat hubungan suatu perbuatan dengan pelaku, digerakkan oleh faktor psikologis (niat). Sementara dimensi yang kedua melihat kegunaan suatu perbuatan dalam kehidupan manusia (manfaat).

Karena itu pernyataan bahwa segala sesuatu tergantung dari niatnya, mempunyai pengertian sesuatu yang bermanfaat belum tentu lahir dari niat yang suci murni. Tapi niat yang suci bersih selalu berusaha mewujudkan ahsanu ‘amalan. Hendaklah kiprah kita dalam kehidupan sehari-hari, baik yang bersifat individu (seperti, makan, minum, mencari nafkah, menuntut ilmu dll.) maupun yang bersifat sosial (seperti, menolong orang lain, ikut menanggulangi kebodohan, kemiskinan, melepaskan dari belenggu ketertindasan, dst.), jangan hanya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan asas manfaat, tapi harus dilandasi oleh niat yang tulus ikhlas.

Hanya dengan itu, kita akan terhindar dari gagah-gagahan, megah-megahan, pintar-pintaran, mencari pangkat, kedudukan dan popularitas, serta motivasi-motivasi rendah lainnya yang bersifat materialistis. Sebab iman dan amal saleh seperti yang disebutkan dalam nash-nash Alquran dan As-Sunnah, menunjukkan bahwa niat suatu perbuatan adalah rohnya, dan rohnya amal saleh adalah ikhlas. Allah berfirman: ”Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (Q. S. 35: 10). – ahi

By Noor Fatah
Senin, 08 Juni 2009 pukul 17:34:00

Hawa Nafsu dan Keruntuhan Bangsa

5145_1054030601387_1544479586_119832_1191277_n
Dalam karyanya The Dicline and the Fall of Roman Empire, ahli sejarah Gibbon mengatakan bahwa keruntuhan bangsa besar Romawi ditandai oleh ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu. Para pejabat negara lebih mengutamakan interes dan kepentingan pribadi. Hukum tidak lagi dihargai sebagaimana mestinya.

Hal yang sama terjadi di dunia Islam. Sebelum jatuhnya kota Baghdad yang pernah menjadi pusat peradaban dunia ke tangan bangsa Tatar yang berarti berakhirnya dinasti Abbasiyah, para petinggi Abbasiyah umumnya hanya mengutamakan kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan daripada kepentingan bangsa dan negara. Mereka suka bermewah-mewah menurutkan hawa nafsu.

Allah berfirman: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberikannya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. (Al-Jaatsiyah: 23).

Dalam surah lain Allah berfirman: Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya. (Al-Furqaan: 43-44).

Ayat-ayat di atas di antaranya menjelaskan bahwa orang yang mempertuhankan hawa nafsunya adalah orang yang sesat. Mereka menurutkan hawa nafsu, karena mereka tidak memfungsikan pendengaran, hati dan penglihatan mereka secara baik untuk mendengar, memahami, dan melihat ayat-ayat Allah, untuk mendengar, memahami, dan melihat sejarah, apa akibat yang diterima oleh orang yang mempertuhankan hawa nafsu dan apa kenikmatan yang dianugerahkan kepada orang yang hanya tunduk kepada Tuhan.

Di dalam ayat di atas, orang yang tidak dapat memfungsikan pendengaran, hati dan penglihatan secara baik diidentikkan Allah dengan binatang ternak. Ini, di antaranya, karena binatanglah yang dalam kehidupannya hanya menurutkan hawa nafsu. Bagaimana jika manusia telah identik dengan binatang yang di antara ciri-ciri kehidupannya adalah untuk kepuasan makan, seks, masa bodoh dengan keadaan sekitar, dan bahkan ada yang buas? Tidakkah tatanan kehidupan akan berantakan? Tidak hancurkah suatu bangsa jika orang-orangnya telah disamakan Tuhan dengan binatang ternak? Lihatlah apa yang terjadi dengan bangsa Romawi dan Abbasiyah yang disebutkan di atas.

Untuk itu, pengendalian hawa nafsu, yang di antara caranya dengan memfungsikan indera-indera kita, terutama pendengaran, hati, dan penglihatan, untuk mendengar, memahami, dan melihat ayat-ayat Allah baik yang tertulis di dalam Alquran maupun yang tidak (memperhatikan alam semesta), serta membaca sejarah. Orang-orang yang tidak memfungsikan hati, penglihatan, dan pendengaran mereka secara baik, tempat kembalinya adalah neraka. (Perhatikan surah Al-A’raaf: 179). – ah

By Drs HM Jamil MA
Kamis, 11 Juni 2009 pukul 17:38:00

Moralitas Pemimpin

20090616145242
Sebaik-baik pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka mencintai kamu, dan kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakan kamu. Dan, seburuk-buruknya pemimpin kamu adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, dan kamu melaknat mereka dan mereka pun melaknat kamu,” (HR. Muslim).

Setiap manusia, apa pun jabatan dan profesinya, adalah seorang pemimpin. Allah SWT telah memuliakan anak cucu Adam dan mengangkatnya sebagai khalifah/pemimpin di muka bumi (QS al Baqarah: 30). Lebih jauh, Rasulullah saw pun menegaskan bahwa setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas hasil kepemimpinannya (HR. Bukhari Muslim).

Menurut Islam, kepemimpinan adalah amanat yang harus diberikan kepada seseorang yang ahli (kapabel, kredibel, akseptabel) dan harus ditunaikan dalam konsistensi Hukum Kitabiyah, Hukum Robbaniyah, dan Hukum Kauniyah demi mencapai kehidupan yang adil berkemakmuran dan makmur berkeadilan, baik secara material maupun spiritual.

Ibnu Taimiyah dalam kitab As-Siyasah As-Syari’iyyah menegaskan bahwa oleh karena kepemimpinan itu suatu amanah, maka dalam meraihnya harus dengan cara yang hak, fair, dan tidak melanggar hukum sehingga implementasi kepemimpinannya pun harus dengan benar dan baik juga.

Seorang pemimpin yang baik dan benar akan selalu menunaikan amanah kepemimpinannya berdasarkan moralitas yang dapat dipertanggungjawabkan, baik secara vertikal maupun horizontal. Suatu tuntutan moralitas pemimpin yang ideal pernah disitir dalam pidato kenegaraan Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq ketika beliau dilantik menjadi kepala negara sepeninggalnya Rasulullah saw. Moralitas pemimpin dimaksud meliputi 7 hal, yaitu: Pertama, sifat tawadhu’ (rendah hati). Sifat ini mensyaratkan bahwa seorang pemimpin harus senantiasa menjaga martabatnya dalam mengemban amanah kepercayaan dengan memerankan dirinya sebagai public service; mau melayani rakyat yang dipimpinnya dengan tanggung jawab yang benar.

Kedua, tidak alergi terhadap kritik. Seorang pemimpin dengan kearifan dan kebijaksanaannya akan selalu terbuka terhadap kritik dan saran yang konstruktif demi menggalang partisipasi rakyat yang dipimpinnya, sehingga melahirkan social support dan social control yang sehat.

Ketiga, amanah dan jujur. Hal ini merupakan tuntutan mutlak demi menjaga kesinambungan kepemimpinan. Karena pemimpin merupakan pengemban amanah rakyat, ia dituntut untuk senantiasa amanah dan jujur dalam mengemban amanah rakyat.

Keempat, berlaku adil dan tidak memihak. Artinya, seorang pemimpin yang hak akan selalu menempatkan semua permasalahan pada proporsi yang sebenarnya, tidak pilih kasih dan tidak bertindak sewenang-wenang. Kelima, konsisten dalam perjuangan/jihad. Seorang pemimpin akan selalu beristiqomah, konsisten dan tidak ‘tinggal gelanggang colong playu’ sebelum perjuangan berhasil.

Keenam, terbuka dan demokratis. Artinya, seorang pemimpin yang hak akan selalu menghargai perbedaan pendapat sepanjang hal itu merupakan rahmat demi menegakkan kebenaran dan keadilan. Ketujuh, berbakti kepada Allah SWT. Ini merupakan conditio sine qua non bagi seorang pemimpin yang implementasinya antara lain, dengan menegakkan shalat. Jika seorang pemimpin tetap pada garis-garis kebijaksanaan Allah SWT, maka praktek kepemimpinannya pasti membawa kemaslahatan bagi rakyatnya. Inilah moralitas pemimpin yang harus ditegakkan. -ahi

By Sri Kuncoro
Selasa, 16 Juni 2009 pukul 14:52:00