Punk Muslim

P-U-N-K, mendengar keempat huruf itu, nampaknya ada sebagian orang yang akan menutup kuping, menutup mata ataupun ingin me-remove kata itu dari benaknya karena trauma atas perilaku negatif yang pernah dirasakannya atau takut karena melihat penampilan para anak punk.

Kata ‘punk‘ sebenarnya biasa-biasa saja, namun yang membuat kata itu menakutkan adalah penganut kata-kata tersebut, atau penganut aliran musik keras yang selalu dikaitkan dengan punk. Entah benar atau tidak, banyak orang yang beranggapan dunia punk adalah dunia yang berkaitan tentang hal-hal yang dianggap negatif.

Di tempatku (Blora, Jawa Tengah), aku sudah terbiasa bergaul dengan anak-anak punk, karena mayoritas teman-temanku di Komunitas Anak Seribupulau adalah anak punk. Hampir bosan aku melihat anak punk, entah kutukan atau apa, setiap aku keluar kota, aku juga selalu menemui anak punk. Ironis? Tidak juga. Terlalu berlebihan? Sangat!

Terkadang persepsi orang terhadap anak punk sangat berlebihan. Akulah saksi hidupnya, Ariyanto ‘Petek’ dari Blora. Aku sering bersama mereka, susah senang bersama, berkarya dan berkreatifitas bersama. Contohnya, dengan mendaur ulang sampah, memahat, cukil kayu menggunakan pisau (cutter), melukis, dan masih banyak lagi. Dan yang pasti menggunakan imajinasi kita sendiri. Ya mungkin itu gambaranku mengenai anak punk di daerahku, walaupun tampang mereka beringas, tapi kreatifitas mereka lebih beringas dari tampangnya. Nasi telah menjadi bubur, namun anak-anak punk di sekitarku mampu mengubahnya menjadi bubur yang enak sekali, walaupun jiwa mereka sudah berkarat dengan aliran punk, mereka tetap kreatif dan inovatif, itulah sebabnya mereka masih bisa bertahan dan berkarya hingga detik ini. Aku pun bersyukur bisa berada di sekitar mereka.
Setelah disinggung, aku mulai bertanya, apa itu punk? Dari mana asal mula aliran punk itu? Aku pun yakin mayoritas anak-anak punk tidak tahu sejarah aliran punk yang mereka anut. Hanya petantang-petenteng dan ikut-ikut saja.

Pertanyaanku pun terjawab oleh ‘Paman Google’. Dikatakan, punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Punk berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik, anti pemerintahan, idealis, kritis dan atheis.

Harus kuakui, awalnya mereka hanya ikut-ikutan saja, tidak tahu arti punk sebenarnya. Itulah yang dialami oleh anak-anak punk di seluruh Indonesia. Berbeda sekali dengan anak punk di Inggris, mereka bukanlah anak-anak yang hanya hura-hura dan meresahakan para penumpang bus kota, melainkan para politisi yang selalu membaca koran, kritis, idealis, dan pengawas bagi negaranya.

Di sinilah telah terjadi pergeseran makna mengenai punk sesungguhnya, yang dinodai oleh perbuatan dan penampilan yang tidak mengenakkan mata, apabila kita melihatnya.

Itulah sekilas tentang dunia punk di kota tempatku tinggal. Di Ciputat, Tangerang Selatan, ternyata ada sebuah fenomena punk yang juga sangat menarik, yaitu Punk Muslim.

Punk Muslim? Apa itu? Aneh-aneh saja, nampaknya hanya isapan jempol semata, karena menurutku aliran punk adalah aliran yang meniadakan keberadaan Tuhan, jadi mana mungkin bisa berkolaborasi dengan agama.

Ya, seperti itulah aku memfatwakan kata ‘Punk Muslim’. Sekilas aku menafsirkan anak-anak punk sebagai segerombolan anak muda yang anti kemapanan, hidup di jalanan, menjadi pengamen, tindikan dan tato menghiasi tubuh mereka, berpakaian serba hitam serta doyan mabuk-mabukan. Su’uzon? Mungkin, tapi menurutku tidak juga, karena pesan yang kutangkap dari perilaku dan bahasa tubuh mereka seperti itu.

Alhamdulillah, penafsiranku salah besar, ternyata tidak semua aliran punk maupun anak-anak punk seperti itu. Nampaknya stereotip itu tidak melekat pada Punk Muslim. Ya, aku megetahuinya dari acara ‘Menelisik Lika-liku Kehidupan Punk Moslem’ yang diadakan oleh Lembaga Dakwah Kampus Syahid (LDK Syahid) di aula Student Center Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah (18/03). Dari talkshow tersebut aku mendapatkan ‘benang merah’ atas kegelisahanku, dan aku mulai meyakini, bahwa memang benar keberadaan Punk Muslim, dan kini tersebar di Indonesia (Jogjakarta, Palu, Semarang, Bengkulu, Indarmayu).

Merekalah Ahmad Zaki, Adi, dan (alm) Budi penggagas Punk Muslim. Pada tahun 2002 (alm) Budi menceritakan kegelisahannya kepada Zaki (cendikiawan Muslim), (alm) Budi merasa gelisah, karena hidupnya sudah lanjut dan menyadari dosanya sudah banyak sekali, dan ia tidak mau neraka dipenui oleh anak-anak punk, maka ia mengusulkan agar dibuat pengajian bagi anak-anak punk yang dipimpin oleh (alm) Budi. Pada tahun itu terbentuklah pengajian rutin yang selalu dilakukan hari Kamis, sehabis shalat Isya. Alhamdulillah, itu berjalan, namun tidak beberapa lama Budi meninggal, Zaki tidak patah arang, Adi pun mendampingi melanjutkan perjuangan Budi. Semakin lama, semakin banyak anak punk yang merapat kebarisan.

Perjalanan Punk Muslim bukanlah semudah membalik telapak tangan, sudah banyak sekali tragedi-tragedi yang mengiris hati untuk menegakkan Punk Muslim, karena keberdirian Punk Muslim membuat para punkers gerah, para punkers mengecam para punkers Muslim ini, bahkan hingga harus adu jotos oleh preman Pulo Gadung, mereka kalah. Walaupun begitu idealisme Punk Muslim mereka tidak akan pernah padam, inilah yang layak untuk dikatakan sebagai anak punk. Bahkan kegigihan mereka tergambarkan ketika mereka terpaksa kehilangan base camp yang mereka gunakan untuk mengaji, tidak ada rotan akar pun jadi, mungkin itulah yang membuat mereka terus bertahan. Ketika mereka tidak mempunyai base camp untuk mengaji, halte dan taman pun disulap menjadi tempat mengaji mereka
Ambon, yang nama aslinya Dharma Putra, adalah salah satu anggota Punk Muslim yang berpendidikan pesantren. Sejak kecil, Ambon memang sudah terjun ke kehidupan jalanan, karena ada masalah internal dalam keluarganya. Walaupun sudah duduk di bangku pesantren, anak keturunan Kalimantan dan India ini tidak bisa meninggalkan dunia punk yang sudah mengalir di setiap aliran darahnya. Ambon pun sudah lelah berbuat maksiat, tapi dunia punk terus membawanya ke ‘sana’. Ambon pun memilih jalan tengah. Ia pun menjadi bagian dari Punk Muslim. Banyak lagi, seperti Asep, Otoy dan lainnya, walaupun ada dari mereka yang bertato, tapi mereka tetap menjunjung tinggi keislaman mereka, walaupun mereka menyesali di akhir dan takkan mengucilkan mereka untuk beribadah.

Kawan, jangan mengira anak-anak Punk Muslim berpakaian baju muslim, berpeci atau memakai jilbab. Tidak Kawan, penampilan boleh urakan, tapi hati tetap Muslim. Filosofi yang sangat mendasar dari Punk Muslim adalah hadis nabi yang berbunyi, “sampaikanlah walau satu ayat.” Walaupun mereka bertato, mereka mulai meninggalkan kebiasaan buruk mereka secara bertahap. “Yang dulunya lima botol, jadi tiga botol,” ucap Ahmad Zaki, selaku pembimbing Punk Muslim. Metode yang dilakukan Zaki bukanlah metode sapu jagad, tidak langsung mengatakan “Ini haram! Ini dosa!”, bukan itu cara berdakwah bagi anak jalanan, karena objek dakwah Zaki bukanlah orang yang bertipikal lembut, “Jika saya menggunakan cara itu, mereka pasti langsung kabur, nggak mau ngaji lagi,” ucap Zaki, “Di-Islamin, diurusin, dimandiin, disunatin, dikawinin dan dikuburin,” lanjut Zaki, sang penyejuk hati bagi para Punk Muslim.

elejit dengan cepat, itulah perkembangan Punk Muslim, semakin lama semakin melebarkan sayapnya ke seluruh Indonesia, walaupun kecaman terus mengganggu telinga mereka. Kini Punk Muslim akan meluncurkan album ke-duanya, setelah album pertama yang bertajuk Anarchy In The Dark Soul. Para anggotanya pun sudah banyak yang menikah dan bekerja.


Harapan Punk Muslim tidak muluk-muluk, hanya ingin anak-anak punk mengetahui filosofi mereka sebagai manusia, makhluk yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Terserah kalian berasal dari latar belakang apa, aliran apa, menguikuti kegiatan apa, asalkan kalian jangan melupakan al-hak, sebagai pemeluk agama.

Lalu bagaimana dengan anak punk di sekitar kalian, Kawan?
Apakah mereka hanya punk yang ikut-ikutan saja?
sumber dari: akumassa

Oleh Farabi Ferdiansyah (Komunitas Djuanda) & Ariyanto ‘Petek’ (Anak Seribupulau) | Pada Selasa, 23 Maret 2010

Maryam Jameela, Masuk Islam Usai Diterpa Propaganda Yahudi

Dunia mengenal tokoh yang satu ini sebagai seorang intelektual serta penulis ternama di bidang agama, filsafat, maupun sejarah. Maryam Jameela, demikian nama muslimnya. Ia telah menghasilkan sejumlah karya yang cukup penting dalam khazanah pemikiran Islam, antara lain Islam and Western Society: A Refutation of the Modern Way of Life, Islam and Orientalis, Islam in Theory and Practice, dan ‘Islam and the Muslim Woman Today’.

Salah satu hal yang patut dicatat dari tulisan-tulisan serta pemikiran Maryam Jameela, adalah keyakinannya terhadap agama Islam yang dinilainya sebagai agama terbaik. Islam merupakan agama dengan keunggulan paripurna, sehingga merupakan satu-satunya jalan untuk menuju kehidupan lebih baik, baik di dunia maupun akhirat.

Melalui karyanya, Maryam ingin menyebarkan keyakinannya itu kepada segenap umat Muslim di seluruh dunia. Harapannya adalah agar umat semakin percaya diri untuk dapat mendayagunakan keunggulan-keunggulan agama Islam tersebut demi meraih kejayaan di berbagai bidang kehidupan.

Sikap dan pemikiran yang ‘trengginas’ itu tampaknya tak bisa dilepaskan dari latar belakang kehidupan cendekiawan ini. Sejatinya, wanita kelahiran 23 Mei 1934 tersebut adalah seorang Yahudi. Keislamannya berlangsung ketika masih berusia remaja.

Ia menyandang nama Margareth Marcus sebelum memeluk Islam. Berasal dari keluarga Yahudi, Margareth dibesarkan dalam lingkungan yang multietnis di New York, Amerika Serikat. Nenek moyangnya berkebangsaan Jerman. “Keluarga kami telah tinggal di Jerman selama empat generasi dan kemudian berasimilasi ke Amerika,” papar Maryam, dalam buku Islam and Orientalism .

Margareth kecil sangat menyukai musik, terutama simphoni dan klasik. Prestasinya pada mata pelajaran musik pun cukup membanggakan karena selalu mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Hingga suatu hari dia mendengarkan musik Arab di radio, dan langsung jatuh hati.

Kian hari dirinya makin menyukai jenis musik ini. Margareth pun tak sungkan meminta kepada ibunya agar dibelikan rekaman musik Arab di sebuah toko milik imigran Suriah. Sampai akhirnya, dia mendengar tilawah Alquran dari sebuah masjid yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya di kota New York.

Margareth merasa ada kemiripan bahasa antara musik Arab dan Alquran tadi. Akan tetapi, yang didengarnya di masjid, jauh lebih merdu. Sehingga, demi untuk menikmati keindahan lantunan ayat-ayar Alquran itu, Margaret kecil rela menghabiskan waktu untuk duduk di depan masjid .

Ketika beranjak dewasa, barulah Margareth mengetahui bahwa pelantun irama yang merdu dan telah membuainya semenjak kecil, adalah pemeluk agama Islam. Sedikit demi sedikit dia lantas berusaha mencari informasi tentang Islam, tanpa pretensi apapun terhadap agama ini.

Persinggungan yang semakin intens dengan Islam baru terjadi saat menempuh pendidikan di New York University. Usianya 18 tahun kala itu. Pada tahun keduanya, Margareth mengikuti mata kuliah Judaism in Islam karena ingin mempelajari Islam secara formal.

Setiap perkuliahan, sang dosen kerap menjelaskan bahwa Islam merupakan agama yang diadopsi dari agama Yahudi. Segala yang baik dalam Islam pada dasarnya berasal dari kitab Perjanjian Lama, Talmud dan Midrash. Tak jarang pula diputar film-film tentang propaganda Yahudi. Intinya, yang dipaparkan di ruang kuliah sering kali menunjukkan inferioritas Islam dan umat Muslim.

Akan tetapi, Margareth tidak begitu saja termakan indoktrinasi ini. Dia merasa ada yang aneh dengan segala penjelasan tadi karena terkesan menyudutkan. Dirinya merasa tertantang untuk membuktikan bahwa segala yang diterimanya di perkuliahan ini lebih bernuansa kebencian kepada Islam.

Margareth menyediakan waktu, pikiran dan tenaga yang cukup panjang untuk mempelajari Islam secara mendalam, sekaligus membandingkannya dengan ajaran Yahudi. Apa yang terjadi? Dia justru banyak melihat kekeliruan dalam agama Yahudi, sebaliknya menemukan kebenaran pada Islam.

Hasil penelaahannnya dicurahkan dalam suratnya kepada Abul A’la al-Mawdudi, seorang ulama besar Pakistan. Di situ sia menulis, “Pada kitab Perjanjian Lama memang terdapat konsep-konsep universal tentang Tuhan dan moral luhur seperti diajarkan para nabi, namun agama Yahudi selalu mempertahankan karakter kesukuan dan kebangsaan. Sebagian besar pemimpin Yahudi memandang Tuhan sebagai agen real estate yang membagi-bagikan lahan untuk keuntungan sendiri. Maka, walau perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Israel sangat pesat, namun kemajuan material yang dikombinasikan dengan moralitas kesukuan ini adalah suatu ancaman bagi perdamaian dunia.”

Kecintaan Margareth kepada Islam tak terbendung lagi. Dirinya semakin mantap untuk memilih Islam sebagai jalan hidup. Akhirnya ketika berusia 19 tahun, Margareth resmi memeluk Islam, tepatnya pada tahun 1961. Dia mengganti namanya menjadi Maryam Jameela.

Seperti tertera dalam buku Islam and Orientalism, sebenarnya keinginan menjadi mualaf sudah sejak jauh-jauh hari, akan tetapi selalu dihalangi keluarganya. Mereka menakut-nakutinya dengan mengatakan bahwa umat Islam tidak akan bersedia menerimanya karena berasal dari keturunan Yahudi.

Namun, Margareth tidak gentar, dan dia mampu membuktikan bahwa apa yang dikatakan keluarganya tidaklah benar. Umat Muslim justru menyambutnya dengan hangat. Keputusan beralih menjadi Muslimah, diakuinya kemudian, juga turut dipengaruhi oleh kekagumannya pada dua karya terkenal dari Mohammad Assad, yakni The Road to Mecca dan Islam at Crossroad .

Setelah berislam, dia mengalami semacam transformasi pola pikir yang dia istilahkan sebagai ‘transformation from a kafir mind into a Muslim mind’ (transfomasi dari pikiran kafir ke pikiran Muslim). Menurut Maryam, perubahan pola pikir yang memengaruhi perilaku dan tutur kata dalam kehidupan sehari-hari, akan terjadi bila seseorang memasuki ruang keislaman. Ada perbedaan mendasar antara pemikiran dari seorang Muslim dan kafir.

Tak lama setelah itu, Maryam memulai kegiatan penuangan ide, gagasan dan pemikirannya sebagai penulis tetap pada majalah Muslim Digest terbitan Durban, Afrika Selatan. Artikel-artikelnya kerap menekankan inti ajaran tentang akhlak, takwa dan iman, serta kebenaran dalam agama Allah SWT. Dan melalui aktivitas di jurnal itu, dia semakin akrab dengan Mawlana Sayid Abu Ala Mawdudi, pendiri Jamaati Islami (Partai Islam) Pakistan, yang juga kontributor di jurnal yang sama.

Maryam sangat terkesan dengan karya dan pemikiran-pemikiran Mawdudi, sehingga memutuskan untuk berkorespondensi. Surat-menyurat antara keduanya dilakukan pada kurun waktu 1960 dan 1962, dan kemudian dibukukan dengan judul Correspondences Between Mawlana Mawdoodi and Maryam Jameela . Keduanya saling berdiskusi tentang banyak hal terkait kehidupan umat Muslim, hubungan Islam dan Barat, serta masih banyak lagi.

Sebenarnya, beberapa saat sebelum memeluk Islam, Maryam Jameela sudah aktif menulis sejumlah artikel yang intinya membela Islam. Dia juga gencar mengkritik berbagai paham modern yang seolah hendak dipaksakan untuk diterapkan kepada masyarakat Islam.

Atas undangan Mawdudi, di tahun 1962, Maryam datang ke Pakistan. Tak sekadar berkunjung, dia bahkan disarankan untuk menetap di Lahore agar bisa lebih fokus pada aktivitas intelektualnya. Beberapa waktu kemudian, dia menikah dengan Muhammad Yusuf Khan.

Sejak menetap di Pakistan, Maryam menghasilkan sejumlah karya yang berpengaruh, termasuk dalam menerjemahkan ideologi Jamaati Islami dengan bahasa yang sistematis sehingga diterima secara luas. Meski tidak secara formal terlibat dalam partai itu, Maryam adalah salah satu pembela paling gigih terhadap paham dan ideologi Jamaati Islami. Hingga kini, Maryam masih tinggal di Pakistan dan terus berkarya.

SUMBER:REPUBLIKA

Facebook Berulah Lagi, Jutaan Muslim Ancam Tutup Akunnya Secara Permanen

Komunitas Muslim di Facebook melayangkan surat protes pada pengelola situs jejaring sosial itu yang dianggap telah dengan sengaja menghapus halaman-halaman grup Islam yang cukup populer di kalangan muslim pengguna Facebook. Atas tindakan itu, komunitas Muslim di Facebook yang jumlahnya diperkirakan mencapai 2,5 juta orang mengancam akan secara bersama-sama angkat kaki dari Facebook pada Rabu (21/7) lusa.

Dalam pesan yang diunggah di blog Facebook, yang ditujukan pada pengelola Facebook: Mark Zuckerberg, Dustin Moskovitz, Sheryl Sandberg, dan Matt Cohler, komunitas Muslim Facebook menyatakan bahwa Facebook telah memicu rasa kebencian dan ketidaknyamanan terhadap kaum Muslimin di seluruh dunia. Setelah tindakan tak bertanggung jawab Facebook memuat halaman tentang “Hari Menggambar Nabi Muhammad”, kini Facebook dengan agresif menghapus empat halaman grup Islami terbesar di Facebook yang sudah memiliki sekitar 2,5 juta penggemar di kalangan muslim pengguna Facebook.

Menurut pesan yang ditulis komunitas muslim itu, pihak Facebook melakukan penghapusan empat akun grup Islam pada Kamis (8/7) kemarin. Empat akun grup Islam yang dihapus itu adalah:

1. Facebook.com/Rassoul.Allaa h – jumlah fan di Facebook sekitar 1.600.000 orang
2. Facebook.com/Logo.Ramadan – jumlah fan di Facebook sekitar 600.000 orang
3. Facebook.com/Love.Mohammed -jumlah fan di Facebook sekitar 200.000 orang
4. Facebook.com/Quran.Lovers – jumlah fan di Facebook sekitar 70.000 orang

Komunitas Muslim Facebook mempertanyakan kebijakan Facebook menghapus keempat akun grup Islam itu, apalagi grup tersebut merupakan grup Islam yang menyebarkan perdamaian dan tidak memuat pernyataan-pernyataan yang memicu kebencian terhadap pihak lain.

“Penghapusan akun-akun Islami oleh Facebook bukan hanya meremehkan perasaan lebih dari 2,5 juta muslim pengguna Facebook tapi juga sikap yang tidak menghormati lebih dari 1,5 miliar muslim di dunia,” demikian pesan yang ditulis komunitas muslim pada pihak pengelola Facebook.

Mereka menuntut agar Facebook kembali mengaktifkan keempat akun grup Islam itu dan meminta agar Facebook mencantumkan larangan segala bentuk penghinaan terhadap simbol-simbol Islam dalam persyaratan pengguna Facebook dan menutup halaman, akun, grup maupun pengumuman kegiatan yang secara langsung atau tidak langsung melecehkan Islam dan simbol-simbol Islam.

Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, komunitas itu mengancam bahwa 2,5 juta muslim pengguna Facebook akan menutup akun Facebooknya secara permanen pada tanggal Rabu (21/7) dan akan beralih ke situs jejaring sosial lainnya, seperti situs madina.com. (ln/voi)

Sumber : Eramuslim

Hidayah untuk Pengedar Marijuana

Masa lalu yang dilalui Abdullah Abdul Malik sangatlah gelap. Sampai-sampai dia enggan lagi menyebut nama aslinnya sebelum masuk Islam. Sebelum menemukan Islam, dia adalah generasi hip hop yang dekat dengan narkoba dan kehidupan brutal. Kini dia sudah berusia 28 tahun.

Ini adalah tahun kelima bagi dia dalam menikmati kehidupan Islam. Abdullah lahir dan tumbuh di Pennsylvania dalam masyarakat yang sebetulnya hidup cantik. Sepak bola adalah olah raga yang sangat digemarinya.

Begitu menginjak dewasa, dia mulai gemar mendengarkan musik rap dan film-film yang menonjolkan aksi kekerasan. Dari situ dia kemudian yakin bahwa hidup harus dijalani penuh kekerasan dan kemaksiatan. Dia pun memulai perkenalkannya dengan dunia gelap. Saat itu, Abdullah merasakan kebiasaan buruknya sebagai sesuatu yang menyenangkan.

Tokoh-tokoh dalam film kekerasan dan para penyanyi rap yang identik dengan ketidakteraturan pun kemudian menjadi model panutannya. Jalan pikiran sebagian film kekerasan dan syair rap bahwa hidup adalah merampok, pun sangat mempengaruhi kehidupannya. Kini dia baru menyadari betapa bahayanya musik dan film negatif bagi kehidupan para penggemarnya.

Saat usianya menginjak bangku sekolah menengah, dia mulai berkenalan dengan marijuana (salah satu jenis obat terlarang). Tak hanya mengonsumsi, saat itu dia juga ikut menjadi pengedar barang haram tersebut. “Saat itu, saya merasa kosong. Teman yang saya punya, bukanlah teman yang sejati,” ujar dia mengenang masa lalunya.

Menginjak masa remaja, kedua orang tuanya terbelit masalah finansial kemudian pindah ke Florida. Tapi Abdullah saat itu memilih untuk tetap tinggal di Pennsylvania. Dalam kondisi tersebut, dia mengembangkan perdagangannya hingga masuk jaringan polisi setempat. Tahun 2004, dia harus menikmati saat yang menyulitkan di penjara.

Saat itulah dia menghentikan segala aktivitas penuh dosa. Keluar dari penjara, dia bertemu dengan seorang berusia paruh baya yang beragama Islam. Abdullah tidak menyebutkan orang yang dimaksudkannya itu. Dia pun mulai berbicara soal Islam dengan orang itu. “Saya tanyakan ke dia, apa bisa saya memeluk Islam, tapi tetap mempercayai Yesus,” kata Abdullah.

Orang yang ditanya pun memberi jawaban yang sangat bijak. Sosok itu menjelaskan bahwa Yesus adalah orang yang punya kedudukan tinggi dalam agamanya, tapi bukanlah Tuhan. Abdullah menjelaskan bahwa orang itu mengungkapkan, Islam mengakui seluruh nabi mulai dari Adam AS hingga Muhammad SAW. Sedangkan Tuhan orang Islam hanyalah satu Yang Maha Esa dan tidak ada pembandingnya.

Percakapan ini sangat menyentuh hatinya. Pemikiran dan jalan hidupnya pun mulai berubah. Suatu malam, orang itu memberinya Alquran untuk dipelajari. “Saya berterima kasih kepadanya, dan mulai membaca Kitab pemberiannya,” ujar dia. Hidayah pun turun kepadanya. Dari Alquran dia menemukan banyak sekali kebenaran dan Islam.

Kini, dia menjadi penjaga sekolah dan punya rencana untuk bisa keliling dunia untuk membantu orang-orang bernasib kurang beruntung sambil berdakwah. “Ketika Anda hidup keliru, kemudian menemukan kebenaran, maka kebenaran itu tampak sangat terang,” tutur dia. Atas hidayah yang diterima, dia pun mengaku sangat bersyukur. Dia telah berhasil mengubah kehidupannya dari jalanan, menuju penjara, dan akhirnya berlabuh dalam Islam.
Red: irf di kutip dari ..republik online kisah kisah mualaf lainya KISAHKU….

Susan Carland, Aktivis Gereja yang Menemukan Kelembutan Islam

MELBOURNE–Tahun 2004 lalu, mungkin menjadi tahun yang paling berkesan bagi seorang Susan Carland. Betapa tidak, wanita kelahiran Melbourne, Australia, ini terpilih sebagai Tokoh Muslim Australia (Australian Muslim of the Year) 2004. Sejak saat itu, sosoknya dikenal luas di seluruh penjuru Negeri Kangguru, bahkan hingga ke negeri tetangga.

Kendati pernah dinobatkan sebagai Tokoh Muslim Australia berpengaruh, sejatinya Susan bukan berasal dari keluarga Muslim. Kedua orang tuanya merupakan pemeluk Kristen yang taat. Ia sendiri baru mengenal Islam pada usia yang baru menginjak 19 tahun.

Orang tuanya bercerai ketika Susan berusia tujuh tahun. Ia kemudian memilih untuk tinggal bersama ibunya, yang dianggapnya sebagai sosok wanita yang gigih, penyayang, dan orang yang paling banyak memengaruhi perjalanan kehidupannya.

Sebagai pemeluk Kristen yang taat, sang ibu pun mengharuskan anak gadisnya itu untuk aktif dalam kegiatan gereja dan mengikuti sekolah Minggu. Namun, ketika menginjak usia 12 tahun, ia memutuskan tidak lagi menghadiri kegiatan gereja dan mengikuti sekolah Minggu. “Saat itu, saya beralasan bahwa saya tetap percaya kepada Tuhan meskipun tidak ke gereja.”

Namun, keinginan yang kuat untuk mengenal Tuhan lebih jauh pada akhirnya mendorong Susan untuk ikut aktif lagi di kegiatan gereja. Ia kemudian memutuskan bergabung dengan sebuah komunitas gereja yang menurutnya terbilang lebih toleran dibandingkan yang sebelumnya pernah ia masuki.

Walaupun aktif dalam kegiatan gereja, diakui Susan, dirinya tetap bisa melalui masa remajanya seperti kebanyakan gadis seusianya. Pada waktu senggang, ia mengikuti kelas balet dan kegiatan ekstrakulikuler lainnya yang diselenggarakan oleh sekolahnya.

Saat aktif di komunitas gereja baru ini, ia kerap mendengar pembicaraan orang-orang di sekitarnya yang mengaku berbicara dengan Tuhan dalam bahasa roh. Hal tersebut menimbulkan kebingungan dalam dirinya yang saat itu tengah mempelajari konsep mengenai ketuhanan.

Ketika merayakan ulang tahunnya yang ke-17, Susan membuat beberapa resolusi di tahun baru. Salah satu resolusinya adalah menyelidiki agama-agama lain. “Agama Islam saat itu tidak masuk dalam daftar teratas karena agama ini bagi saya terlihat asing dan penuh dengan kekerasan,” ungkapnya.

Pengetahuan tentang Islam yang dimiliki Susan kala itu hanya sebatas pada penjelasan-penjelasan yang ia baca di buku ensiklopedia anak-anak dan dalam film berjudul Not Without My Daughter. Di samping itu, ada juga pesan yang pernah disampaikan ibunya bahwa beliau tidak peduli jika dirinya menikah dengan seorang pengedar narkoba sekalipun, asalkan jangan dengan seorang Muslim.

Layar TV

Lalu, kenapa ia kemudian memilih Islam? Ada nilai lebih yang ia dapatkan dalam agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, yakni kedamaian dan kelembutan. Kebalikan dari yang pernah ia dengar sebelumnya.

Saat disuruh menjelaskan bagaimana ia bisa memutuskan menjadi seorang Muslimah, ibu dua anak ini menuturkan kepada harian The Star bahwa ia tidak bisa mengingat secara pasti, apakah dia menemukan Islam atau Islam menemukannya. Yang pasti, semua peristiwa tersebut tidak pernah ia rancang sebelumnya. “Hari itu, saya menyetel televisi dan mendapati diri saya sedang asyik menyaksikan sebuah program mengenai Islam,” ujarnya.

Sejak saat itu, berbagai artikel mengenai Islam di koran dan majalah selalu menarik perhatian Susan. Tanpa disadarinya, ia mulai mempelajari agama Islam. Ketika dalam proses pembelajaran tersebut, Susan justru menemukan sebuah ‘kelembutan’ yang tidak pernah ia temukan. Lagi pula, ajaran Islam menarik baginya secara intelektual.

“Agama ini jauh berbeda dibandingkan agama-agama yang pernah saya pelajari dan selidiki. Dalam Islam, ternyata tidak mengenal yang namanya pemisahan antara pikiran, tubuh, dan jiwa seperti halnya yang pernah saya pelajari dalam agama Kristen,” papar dosen sosiologi Universitas Monash, Australia, ini.

Berawal dari situ, Susan bertekad bulat untuk memeluk Islam. Satu kebohongan besar yang terpaksa ia lakukan adalah merahasiakan perihal keislamannya dari keluarga dan teman-temannya, terutama sang ibu.

Namun, takdir berkata lain. Rahasia yang telah ditutupinya rapat-rapat terbongkar juga ketika ibunya mengadakan perjamuan makan malam dengan menu hidangan utama daging babi. “Saat itu, saya mengalami dilema, antara mesti mengumumkan soal keislaman saya atau memakan makanan haram itu,” ujarnya mengenang peristiwa itu.

Dalam kebimbangan tersebut, ia pun berterus terang. Namun, tanpa ia sangka, reaksi yang ditunjukkan oleh ibunya sungguh membuatnya terkejut. Bukan kemarahan dan cacian, melainkan tangisan dan pelukan erat dari sang ibunda yang diterimanya.

Selang beberapa hari setelah insiden makan malam tersebut, istri dari Waleed Ali ini kemudian memutuskan mengenakan jilbab. Menurutnya, menutup kepala merupakan kewajiban bagi seorang Muslimah. Karena, hakikatnya, Islam mengatur segala aspek dalam kehidupan manusia. Bagi dia, banyak manfaat yang dirasakan dengan menutup aurat itu. “Selain sebagai sebuah peringatan agar kita lebih mendekatkan diri kepada-Nya, juga menjadikan wanita Muslim sebagai duta Islam,” ujarnya.

Selepas memeluk Islam, perjalanan hidup yang dilalui Susan tidaklah semudah yang dialami segelintir mualaf yang bernasib baik. Susan sering berhadapan dengan kemarahan khalayak ramai dan dijauhi oleh teman-temannya. Bahkan, ia juga kerap mendapatkan penghinaan di depan umum terkait dengan jilbab yang menutupi kepala dan rambutnya.

Namun, kini semuanya berubah. Setelah lima tahun berislam, barulah Susan mempunyai teman-teman yang bukan saja berasal dari kalangan Muslim, tetapi juga dari non-Muslim. Dengan busana Muslim yang membalut tubuhnya, ia kini bebas mengajak anaknya untuk berjalan-jalan di taman kota ataupun bermain di dekat danau, di mana dulu semasa kecil ia sering diajak oleh ibunya untuk memberi makan bebek. Begitupun ketika ia pergi mengajar ke kampus dengan mengendarai VW Bettle warna merah muda yang biasa disapanya dengan panggilan ‘Gus’, tidak ada lagi tatapan sinis dari orang-orang di sekelilingnya.
Red: irf
Rep: Nidia Zuraya
di kutip dari REPUBLIKA.CO.ID CERITA TENTANG MUALAF Perempuan Aktivis Kemanusiaan Yahudi Masuk Islam