Anggota Gaza Freedom Flotilla yang Terperangkap Kebrutalan Serdadu Israel

Senin, 31 Mei 2010, menjadi hari yang tidak terlupakan bagi Bulent Yildirim. Bersama sekitar 663 aktivis pro-Palestina dari 37 negara yang tergabung dalam misi Gaza Freedom Flotilla (Gugus Tugas/Armada untuk Kemerdekaan Gaza), dia menjadi saksi kebrutalan pasukan Israel pada pagi buta itu. Ditawan tiga hari, para aktivis kemanusiaan tersebut akhirnya bebas pada 2 Juni lalu.

MATA Yildirim masih sayu. Pakaian chairman Yayasan untuk HAM dan Kebebasan dan Bantuan Kemanusiaan (IHH) itu lusuh. Tapi, kata-kata yang keluar dari mulutnya jelas dan tegas, bahkan cenderung mengandung amarah. “Saya menanggalkan baju saya yang kebetulan berwarna putih dan mengibarkannya sebagai bendera putih. Saya kira, mereka akan berhenti menembak setelah melihat bendera putih saya. Tapi, mereka tetap saja menembaki kami,” ungkapnya seperti dilansir BBC Kamis lalu (3/6).

Mendapatkan serangan bertubi-tubi dari musuh yang jauh lebih kuat, para aktivis yang menumpang kapal Mavi Marmara membela diri. Termasuk, Yildirim. “Dalam upaya bela diri, kami berhasil merebut senjata dari sekitar sepuluh serdadu Israel,” kata pria berkebangsaan Turki tersebut dalam jumpa pers di Bandara Internasional Ataturk, Kota Istanbul.

Sebenarnya, menurut Yildirim, para aktivis pria yang berhasil merebut senjata serdadu Negeri Yahudi itu bisa saja melepaskan tembakan. Lalu, tembakan tersebut akan dianggap sebagai upaya bela diri. Namun, atas imbauan sebagian besar aktivis di Mavi Marmara, aktivis pria yang memegang senjata tidak melakukannya. “Kami berteriak kepada mereka, ‘Kita akan mati dan menjadi martir. Tapi, jangan sampai kita menjadi orang-orang yang menggunakan senjata’,” papar Yildirim.

Sesuai dengan imbauan sebagian besar aktivis lain, mereka yang telanjur memegang senjata serdadu Israel pun memilih tidak menembak. Bahkan, mereka kemudian melemparkan senjata yang berhasil mereka rebut itu ke laut lepas. Karena itu, Yildirim membantah keras laporan resmi militer Israel yang menyatakan bahwa pasukan mereka hanya membela diri setelah diserang sejumlah aktivis. “Tidak ada satu peluru pun yang kami tembakkan dari senjata mereka,” tegas pria bercambang tersebut.

Keterangan Israel bahwa para aktivis lebih dulu menyerang dengan pisau, tongkat, dan dua pistol yang direbut dari personel militernya dimentahkan oleh Yildirim. Sebagai saksi mata sekaligus korban, tokoh masyarakat itu mengatakan, pasukan Israel-lah yang lebih dulu menyerang. “Begitu naik ke kapal, mereka langsung menembakkan peluru karet dari jarak yang sangat dekat ke arah kami. Sesaat kemudian, mereka menembakkan peluru asli,” ungkapnya.

Sebagai aktivis kemanusiaan, para penumpang Mavi Marmara pun tidak tega melihat para serdadu Israel yang terluka. Sejumlah dokter di sana, termasuk seorang dokter asal Indonesia, berusaha menolong. “Saat terjadi bentrok di dek atas, kami di dek bawah merawat serdadu Israel yang terluka. Kami memberi mereka air minum. Tapi, seorang serdadu malah menembak dokter Indonesia yang merawatnya di bagian perut,” kata Yildirim.

Kamis lalu, Israel menyerahkan sembilan mayat korban insiden Gaza Freedom Flotilla kepada pemerintah Turki. Delapan orang di antaranya adalah warga Turki. Sedangkan seorang lainnya, meski berdarah Turki, tercatat sebagai warga Amerika Serikat (AS). “Kami menerima sembilan mayat. Tapi, rekan kami yang hilang masih banyak,” tutur Yildirim. Menurut dia, nasib belasan aktivis kemanusiaan asal Turki yang ditawan Israel belum jelas.

Kengerian yang sama diungkap jurnalis dan fotografer asal Australia, Paul McGeough dan Kate Geraghty. Untung, dua pekerja media yang tercatat sebagai karyawan Sydney Morning Herald tersebut selamat meski menyaksikan koleganya ditembak dari jarak dekat. “Kapal-kapal Israel itu mengitari Mavi Marmara layaknya hyena yang memburu mangsa pada malam hari. Sejurus kemudian, serdadu-serdadu Israel menaiki kapal kami. Sungguh insiden yang sangat buruk,” ucap McGeough.

Bentrok tak imbang antara serdadu Israel yang bersenjata lengkap dan para aktivis sipil itu juga dialami McGeough dan Geraghty. Dalam kesaksian yang mereka unggah ke situs resmi Sydney Morning Herald, dua warga Australia itu menyatakan pernah berada di tengah bentrok. “Saya dan Kate (Geraghty, Red) didorong ke sana kemari. Situasinya sangat tegang,” tulis McGeough seperti dilansir Agence France-Presse.

Bahkan, Geraghty terluka karena tertembak peluru Taser pasukan Israel. Selain luka gores, perempuan pemberani itu mengalami luka bakar ringan. “Rasanya sakit sekali,” ungkapnya. Selain senjata Taser dan amunisi asli, menurut dia, pasukan Israel tersebut membawa granat kejut yang berfungsi mengalihkan perhatian para aktivis. (hep/c11/do

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: