Buku “The World of Islam” Terus Menuai Polemik

PHILADELPHIA–Aktivis Muslim Amerika Serikat hari ini menyerukan penarikan kembali buku “The World of Islam”, serial buku mengenai Islam untuk anak-anak terbitan Mason Crest Publishers, Philadelphia, Amerika Serikat. Buku yang ditujukan untuk “memahamkan islam” bagi anak-anak ini justru dinilai berisi pengetahuan yang menyesatkan dan mendorong sikap anti-Islam.

“The World of Islam” berisi 10 seri buku, yang masing-masing dijual seharga 22,95 dolar AS. Ke-10 buku ini ditulis oleh para peneliti dari Foreign Policy Research Institute, dan tak satupun yang beragama Islam.

Buku ini, meski berlabel buku islam, namun berisi pesan-pesan anti-Islam. Dalam salah satu bab di satu buku, misalnya, disebutkan “Muslimin datang ke Amerika Serikat adalah untuk mengubah tatanan sosial di AS, salah satunya melalui penyebaran ide-ide terorisme.”

Sampai hari ini, sudah puluhan pengaduan berisi keberatan atas buku itu disampaikan pada The Council on American-Islamic Relations (CAIR) di Pennsylvania. Moein Khawaja, director Hak-Hak Sipil CAIR, menyatakan telah meminta sang penerbit menarik buku itu untuk direvisi, namun permohonannya diabaikan.

Khawaja menyatakan, berdasar penelitian yang dilakukan lembaganya, buku yang ditujukan untuk siswa sekolah menengah ini “penuh dengan informasi yang tak benar dan menyesatkan”. Namun Foreign Policy Research Institute (FPRI) yang menggagas terbitnya buku ini menyatakan isi bukunya “sudah sesuai dengan kondisi sebenarnya.”

FPRI adalah lembaga “think tank” yang turut mendukung pendudukan AS atas Irak. Lembaga ini didirikan tahun 1955 dan salah satu anggota dewan direksinya adalah Alexander Haig, mantan menteri luar negeri pada masa pemerintahan Presiden Ronald Reagan.

Usai Hina Islam, Koran Denmark Minta Maaf

KOPENHAGEN–Surat kabar Denmark Politiken meminta maaf karena telah menyinggung umat Islam ketika koran itu mencetak ulang kartun Nabi Muhammad dengan sorban berbentuk bom pada tahun 2008. Hari Jumat, koran Politiken “menyesalkan” bahwa umat Islam tersinggung oleh cetak ulang itu. Harian itu tidak meminta maaf atas keputusan untuk mencetak ulang, hanya meminta maaf atas akibat dari cetak ulang itu.

Dalam permintaan maafnya, koran itu menegaskan tidak melepaskan haknya untuk menerbitkan gambar-gambar yang kontroversial. Politiken adalah surat kabar pertama Denmark yang secara resmi meminta maaf kepada mereka yang tersinggung oleh kartun itu.

Seorang pengacara Arab Saudi, mewakili delapan kelompok Muslim di Timur Tengah dan Australia telah menuntut permintaan maaf dari 11 surat kabar Denmark yang mencetak ulang kartun itu tahun 2008. Koran-koran itu mencetak ulang kartun itu setelah tiga orang ditangkap karena berkomplot untuk membunuh kartunis tersebut.

Media Denmark sebelumnya bersatu menolak seruan meminta maaf atas penerbitan 12 kartun Nabi Muhammad yang menyulut protes keras empat tahun lalu. Pemimpin redaksi Jyllands-Posten, yang pertama kali mencetak kartun itu, telah mengecam permintaan maaf Politiken.

APA PANTAS BERHARAP SURGA

Judul: Apa Pantas Berharap Surga? Dasar Tak tahu malu!!!

Apa Pantas Berharap Surga?
Dasar Tak tahu malu!!!

Assalam mualaikum sahabat ku yang di rahmati Allah SWT.

Sholat dhuha cuma dua rakaat,
qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat,
itu pun sambil terkantuk-kantuk.

Sholat lima waktu?
Sudah jarang di masjid,
milih ayatnya yang pendek-pendek pula…
Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah,
Dilipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu.
Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib.

Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk

catatan:

“Kalau tidak terlambat”
atau
“Asal nggak bangun kesiangan”.
Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya….
dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah.
Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak
oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.

Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap ….
Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka.
Ketika adzan berkumandang,
segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas ….
menuju sumber panggilan,

kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh….
di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur’an sesempatnya,
tanpa memahami arti dan maknanya,
apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya.

Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini
tak sedikit pun membuat dada ini bergetar,

Padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah …..
ketika dibacakan ayat-ayat Allah
maka tergetarlah hatinya.

Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari,
itu pun tidak rutin.
Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas.

Padahal…
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka …
untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah.
Sesekali mereka terhenti, …….
tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam ….
dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya.

Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata.
Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena….
lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi..

Bersedekah jarang,
begitu juga infak.
Kalau pun ada,
itu pun dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet.

Syukur-syukur kalau ada receh.
Berbuat baik terhadap sesama juga jarang,
paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial,
yah hitung-hitung ikut meramaikan.

Sudahlah jarang beramal,
amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum.

Apa sih susahnya senyum?
Kalau sudah seperti ini,
apa pantas berharap Kebaikan
dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui,
senyum indahnya,
tutur lembutnya,
belai kasih dan perhatiannya,
juga pembelaannya bukan semata miliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain.
Juga bukan teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya.

Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, …
bahkan kepada musuhnya sekali pun.
Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba
beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga.
Kalau bukan sebelah kanan, …. ya tetangga sebelah kiri.
Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh remeh,
tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari,
kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan.

Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri.
Detik demi detik dada ini terus jengkel…
setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka …
atau mendapatkan bencana.
Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini?
Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya
kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak.
Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula.
Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu?

Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat.
Terhadap orang tua kurang ajar,
sering membantah,
sering membuat kesal hati mereka,
apalah lagi mendoakan mereka,
mungkin tidak pernah.

Padahal mereka tak butuh apa pun …
selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan ……
dengan segenap cinta.
Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah.
Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih.
Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga.
Bukankah Rasulullah yang tak ber-ibu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu,
bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah?

Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat ……
masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup,
kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan?
Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu.

Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu…
hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka?

Jangan tunggu penyesalan. …..
Bagaimanakah sikap kita ketika bersimpuh di pangkuan orang tua ….
ketika iedul Fitri yang baru berlalu ….?

Apakah hari itu….
hanya hari biasa yang dibiarkan berlalu tanpa makna…?

Apakah siang harinya….
kita sudah mengantuk….
dan akhirnya tertidur lelap…?

Apakah kita merasa sulit tuk meneteskan air mata…?
atau bahkan kita menganggap cengeng……?
sampai sekeras itukah hati kita….?

Ya… Allah ….. ya Rabb-ku……
jangan Kau paling hati kami menjadi hati yg keras……,
sehingga meneteskan air matapun susah…….
merasa bersih……
merasa suci….
merasa tak bersalah……
merasa tak butuh orang lain……
merasa modernis…..
dan visionis………

Padahal dibalik cermin masa depan yang kami banggakan…..
terlukis bayang hampa tanpa makna…..
dan kebahagiaan semu penuh ragu…..

Astaghfirullah ……

Yaa Allah…ampunilah segenap khilaf kami.

Amin

*Mari Hiasi hidup dengan ibadah, jalin ukhuwah tegakkan dakwah, semoga menjadi motifasi kita sahabat ku”
(kiriman e-mail dari seorang sahabat di tengah malam yang sejuk nan syahdu setelah lama brdiskusi di YM)
——————–

Rangkaian Penistaan terhadap Masjid Ibrahimi

Khusus-Infopalestina: -Tanggal 25 Pebruari adalah bertepatan dengan 16 tahun pembantaian di Masjid Ibrahimi di kota Khalil (Hebron), selatan Tepi Barat. Pembantaian yang dilakukan seorang pemukim Yahudi yang menelan korban 29 Palestina gugur dan puluhan lainnya luka-luka.

Pembantaian itu bukanlah yang pertama dan terakhir yang menodai masjid tersebut. Seorang peneliti Palestina telah mencatat ada lebih dari 660 kali penodaan sejak tahun 1967 (sejarah masjid awal dijajaha) hingga akhir 2000. Ditambah ratusan kali penodaan sering berulang sejak tahun 2000. Peneliti Palestina, Muhammad Deyab Abu Saleh, menjelaskan macam-macam pelecehan dan penodaan seperti pembunuhan, penghinaan, pemukulan, pengumpatan, menghina nama Tuhan dan Islam, mengganggu orang sholat, bahkan dilarang sholat, meletakkan bahan-bahan kimia di air minum, di pintu, di jendela dan sajadah.

Terkait serangkaian penindasan yang dialami Masjid Ibrahimi, peneliti dan pengarang buku “Khalil, kota Arab Islami” ini meringkasnya dalam beberapa hal. Diantarannya; dijadikan tempat menyanyi, berdansa, kemaksiatan, khitan, memasukkan anjing, merubah tanda bangunan dan membuat portal di tempat masuk masjid. Ditambah lagi membagi dua dan merubah sebagian tempat di masjid menjadi sinagog Yahudi. Meletakkan kamera pemantau, kamera mata-mata dan alat penyadap di pojok-pojok masjid.

Penindasan Berulang Terjadi

Penindasan yang paling terkenal dan pertama kali dilakukan adalah tanggal 8 Juni 1967, menurut peneliti Palestina itu, karena ketika menjajah kota Khalil, Israel langsung menduduki Masjid Ibrahimi. Dengan paksa mereka masuk masjid diikuti petinggi rahib Yahudi dan mengibarkan bendera Zionis Israel di atas masjid lalu melarang umat Islam sholat didalamnya. Ia menambahkan, penindasan dan penodaan terhadap Masjid Ibrahimi itu terus berlangsung hingga penggrebekan. Aksi-aksi penindasan yang paling populer adalah sebagai berikut:

– 18 Desember 1967: penjajah Israel memasukkan lemari kayu yang didalamnya ada Kitab Taurat ke dalam masjid.

– 11 Oktober 1968: tangga yang menuju ke masjid dirobohkan dan menghancurkan sumur bersejarah yang bersebelahan dengan pagar masjid.

– 31 Oktober 1968: petinggi militer di Khalil memerintahkan kepala wakaf dan arsif untuk mencaplok Ya’qubiyah (bagian dari masjid) dan menjadikannya sebagai tempat ibadah orang Yahudi.

– 2 November 1976: 15 pemukim Yahudi masuk ke masjid dan merobek mushaf Al-Qur’an serta menginjak-injaknya. Di dalam masjid, mereka sempat tinggal sampai beberapa jam.

– 13 Januari 1977: seorang serdadu Israel berdiri di belakang jama’ah sholat Zuhur dan melempar bahan seperti cabe sehingga jama’ah sesak napas dan pilek.

– 13 Mei 1987: serdadu Israel yang berada di masjid mencelah nama Rasulullah SAW saat kumandang azan dan mengancam dengan pembunuhan jika dilanjutkan.

– 13 Oktober 1987: Penguasa kota memerintahkan kepala arsif untuk memasang alat-alat elektronik di tiga pintu masuk utama masjid, memasang kamera televisi dan pintu otomatis.

– 18 September 1991: pemukim Yahudi melemparkan kursi ke arah jama’ah sholat Ashar, mengobrak-abrik portal besi lalu masuk ke masjid dengan sepatu dan sandal mereka. Kemudian memukuli orang-orang tua dan lemah.

Hari Pembantaian

– 25 Pebruari 1994: pemukim Yahudi bernama Baroch Goldstein merangsek masuk masjid saat jama’ah tengah melaksanakan reka’at kedua di sholat Subuh. Kemudian ia langsung melepaskan tembakan dan bom membantai 29 warga Palestina. Kemudian terjadi bentrokan di luar masjid yang mengakibatkan sekitar 30 warga Palestina gugur syahid. Setelah itu komisi penyidikan memutuskan membagi masjid menjadi dua dan merubah sebagian besar tempat masjid menjadi sinagog.

– 15 Agustus 1994: pihak penjajah Zionis Israel memasang 14 kamera terbaru, 58 lampu sorot dan alat peringatan baru.

– 13 Pebruari 1995: pihak penjajah Zionis Israel membangun ruangan permanen untuk polisi dan dua kamar ganti untuk militer di taman masjid.

– 10 Juni 1996: militer Zionis Israel memasang alat penghitung di pintu-pintu otomatis untuk menghitung jumlah jema’ah sholat.

– 31 Januari 1998: pemukim Yahudi menumpahkan air panas ke dua kepala penjaga masjid.

– 21 Pebruari 2010: pemerintah Zionis Israel memutuskan memasukkan Masjid Ibrahimi dalam daftar situs-situs peninggalan Yahudi dan menyiapkan dana sebesar US$ 1,6 juta untuk merenovasinya. #

Misy’al: Lanjutkan Perjuanganmu Wahai Al-Quds Ummat Bersamamu !

Damascus – Infopalestina: Ketua biro politik Hamas, Kholid Misy’al menyerukan warga Gaza untuk melanjutkan perjuangannya melindungi Masjid Al-Aqsha. Ia meminta rakyat Palestina melangkahi semua rintangan yang menghadang perjuangannya.

Dalam pidatonya di depan front pembebasan Palestina, saat acara mengenang satu tahun wafatnya Fadahal Sharuru di Damascus (16/3) Misy’al menyerukan rakyat Palestina di Tepi Barat bersatu, agar bisa mengembalikan masalah Palestina kepada semestinya. Ia mengatakan, dalam perut bumi saat ini lebih baik ketimbang atasnya, jika mereka mulai menghancurkan fondasi-fondasi Al-Aqsha. Maka lanjutkanlah perjuangan kalian wahai para pahlawan Al-Quds dan Palestina 48. Ummat Islam bersama kalian. Saat ini dunia menyaksikanmu, semua mata sedang tertuju pada Timur Tengah.

Misy’al mengisyaratkan, sebagian orang di Al-Quds tidak peduli, padahal mereka harusnya berada di garda depan, namun mereka tidak melakukannya. “Wahai para pecinta Al-Quds segeralah kalian ke Al-Aqsha. Walau kalian harus bergerak tanpa penduduk Gaza. kalau seandainya kalian merasa lemah, maka rakyat Palestina yang ada di wilayah 48 akan membantu kalian, dan kalau seandainya tidak bisa, maka kondisi Al-Quds akan semakin sulit. Tetapi saya yakin, jutaan kaum muslimin Arab dan orang-orang independent dunia mampu menyelamatkan Al-Quds serta al-Aqsha. Namun kekuatan mereka masih sedikit. Saat ini atau besok kekuatan mereka akan bertambah, insya Allah”, unkapnya.

Dalam kaitan ini, Misy’al mengatakan, suasana panas membahana sudah cukup menjadi isyarat, bahwa Al-Quds dan Al-Aqsha serta tempat suci ummat adalah prioritas utama. Semua rintangan yang ada jadikanlan di belakang kalian. Semua penghalang AL-Quds dan Al-Aqsha pada hakikatnya lemah.

Di sisi lain, Misy’al memuji pernyataan jujur Hatim Abdul Qadir yang menyerukan pemerintah Fatah di Tepi Barat yang dinilainya telah menodai sejarah dan perjuangan untuk kembali bersama faksi-faksi perlawanan, agar suara kita dalam menghadapi misi Zionis maupun Amerika.

Misy’al mengatakan, alangkah indahnya pernyataan tersebut. Kalian tidak akan dapat memaksa rakyat Palestina untuk berputus asa dari para pemimpinya. Ingatlah, harat tak akan membuat kepemimpinan, penggagas Dayton dan konco-koncinya tidak akan dapat membuat kepemimpinan. Yang bisa membuat kepemimpinan hanyalah rakyat dan dan pengorbanan, tegasnya. (asy)