Eropa Didesak Masukkan Israel Sebagai Daftar Teroris

Mantan Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniya, menyerukan rakyat Palestina di Tepi Barat bangkit melawan langkah Israel. Gerakan perlawanan Islam Palestina (Hamas) mendesak Uni Eropa memasukkan Israel dalam daftar negara yang mendukung terorisme karena keterlibatan badan intelijennya, Mossad, dalam pembunuhan tokoh Hamas, Mahmud Abdel Rauf al-Mabhouh, di Dubai, 19 Januari lalu.

“Kami mengimbau Uni Eropa untuk menempatkan entitas Yahudi (Israel) dalam daftar negara pendukung organisasi terorisme karena menghadirkan bahaya bagi perdamaian internasional,” ungkap Hamas dalam pernyataan yang dirilis, Selasa (23/2) kemarin.

Imbauan tersebut menanggapi kutukan keras yang disampaikan 27 menteri luar negeri Uni Eropa yang berkumpul di Brussels, Belgia, sehari sebelumnya.

Forum tersebut membahas penyalahgunaan paspor Inggris, Prancis, Irlandia, dan Jerman oleh 11 tersangka pembunuh untuk masuk ke Dubai, Uni Emirat Arab. Semua tersangka diketahui berdarah Israel.

Hamas yang menguasai Gaza sejak 2007, terpecah dengan Otoritas Palestina yang menguasai Tepi Barat. Organisasi ini dimasukkan ke dalam daftar organisasi teroris oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat, hanya karena perjuangannya menghadapi pendudukan Israel di tanah Palestina.

Di Dubai, kepolisian setempat kembali merilis empat tersangka baru pembunuh Mabhouh yang menggunakan paspor Inggris dan Irlandia.

Dengan demikian dalam operasi yang diyakini diotaki Mossad itu, terlibat 15 tersangka. Sejauh ini, Israel membantah keterlibatan Mossad. Namun, dalam forum di Brussels, Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman, gagal meyakinkan para mitranya jika Israel tidak terlibat.

“Dia tidak membantah,” ujar Menlu Irlandia, Micheal Martin. “Tidak ada alasan yang dikemukakan bahwa Israel tidak terlibat dalam pembunuhan petinggi Hamas.”

Sementara itu, di Gaza kemarin, Perdana Menteri Ismail Haniya yang kekuasaannya atas pemerintahan Palestina tergusur sejak perpecahan dengan faksi Fatah pada 2007, menyerukan rakyat Palestina di Tepi Barat bangkit melawan langkah Israel yang membangun tempat suci Yahudi dengan merobohkan sejumlah situs Palestina di Bethlehem dan Hebron.

“Proyek tersebut ingin menghapus identitas dan mencuri sejarah bangsa kita,” tegas Haniya. Langkah Pemerintah Israel tersebut, termasuk pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat, memicu bentrok antara pemuda Palestina dan polisi Israel, Senin. Bentrok berlanjut hingga kemarin. [afp/kaj/www.hidayatullah.com]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: