Dituduh Culik Korban Haiti, Misionaris AS dituntut

Anak-anak korban gempa di Haiti rentan penculikan. Kasus sama, pernah terjadi pada anak-anak korban gempa Aceh.
Haiti menuntut 10 orang misionaris asal AS dengan tuduhan menculik dan berkonspirasi dengan cobaan menyelundupkan 33 anak korban gempa keluar dari negara itu.

Pejabat Haiti mengatakan kasus ini tengah diselidiki oleh pengadilan dan jika terbukti bersalah ancamannya adalah hukuman penjara yang lama.

BBC melaporkan para misionaris ini tertangkap tangan membawa anak-anak korban gempa dengan alasan akan dimasukkan ke dalam panti asuhan di Republik Dominika. Namun kemudian diketahui beberapa anak masih memiliki orang tua yang masih hidup.

Usai persidangan 10 orang misionaris tersebut kembali ditahan di sebuah penjara di Haiti. Mereka dibawa dengan sebuah mobil yang telah disiapkan di luar pengadilan.

“Saya merasa baik, saya percaya dengan Tuhan,” demikian pernyataan pemimpin misionaris Laura Silsby kepada wartawan.

Lima orang lelaki dan lima orang wanita yang berasal dari Idaho tersebut semestinya sudah menghadapi pengadilan awal pekan ini, tapi ditunda karena kekurangan tenaga penerjemah.

Perdana Menteri Haiti Jean-Max Bellerive mencap warga negara Amerika itu sebagai ”penculik”.

Menteri Kehakiman Paul Denis mengatakan mereka tetap disidangkan di Haiti walau kerusakan terjadi di sejumlah bangunan pengadilan negeri itu. Pernyataan ini menanggapi saran yang menyebut para misionaris tersebut bisa diadili di AS.

“Yang mereka langgar adalah hukum Haiti dan itu menjadi wewenang otoritas pengadilan kami untuk melangsungkan persidangan di sini,” kata Paul Denis kepada kantor berita AFP.

“Saya tidak melihat ada satu alasan untuk mereka disidangkan di Amerika Serikat,” katanya.
”Satu desa”

Anak-anak yang berkisar antara dua hingga 12 tahun itu kini telah dirawat lembaga pemerhati anak asal Austria SOS Children’s Village di Port-au-Prince.

21 anak-anak tersebut berasal dari satu desa di luar ibu kota dan diserahkan atas sepengetahuan orang tua mereka.

Seperti yang dilaporkan kantor berita Associated Press, warga di desa Callebas mengatakan mereka menyerahkan anak mereka melalui pekerja panti asuhan setempat yang mengaku bekerja untuk warga negara Amerika.

Para pekerja itu menjanjikan kepada para keluarga kalau anak-anak mereka akan mendapatkan pendidikan yang layak dari para misionaris di Republik Dominika.

Sejumlah keluarga korban gempa mengaku jika anak-anak tersebut kembali maka hal itu akan menyulitkan bagi mereka.

Pemimpin misionaris Laura Silsby mengatakan kelompoknya telah bertemu dengan seorang pendeta Haiti ketika mereka tiba pekan lalu, dan pendeta itu membantu mereka mengumpulkan anak-anak tersebut. Dia juga mengaku tidak memegang surat ijzn untuk bekerja di negara itu.

“Niat kami adalah menolong anak-anak tersebut yang paling membutuhkan bantuan, mereka telah kehilangan kedua orangtua, atau satu diantara orangtua dan ada juga yang ditelantarkan orang tua mereka,” katanya.

Kasus Aceh
Kasus seperti ini mengingatkan peristiwa tahun 2005, saat badai tsunami menghantan Aceh. Kala itu, umat dikejutkan dengan adanya rumor 300 anak Aceh korban tsunami dibawa WorldHelp, sebuah lembaga misionaris asal AS yang ikut membantu menjadi relawan di Aceh.

Namun kasus yang sempat menghebohkan Indonesia itu sempat dibantah oleh pendeta penghubung WorldHelp di Indonesia, Henry Lantang maupun dengan WorldHelp yang berbasis di Virginia AS .

Sebelumnya, informasi adanya anak-anak Aceh yang akan diadopsi orang asing itu sempat beredar antar SMS . [bbc/hid/www.hidayatullah.com]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: