Menemukan Islam di Australia

KATA toleransi begitu mengental sehingga tidak ada keregangan yang nampak dan hampir tidak memperlihatkan perbedaan agama yang ada di antara pemeluknya. Pengalaman ini sangat terasa di antara masyarakat Muslim yang berbaur dengan umat lainnya di Australia, khususnya di Sydney.

Muslim di Australia mengarungi perjalanan sejarah yang panjang dan diperkirakan telah berada di Negeri Kanguru sebelum kedatangan pemukim Eropa. Sebagian pendatang Australia terdahulu adalah Muslim dari kepulauan Indonesia timur yang membentuk kontak dengan daratan Australia sekitar abad ke 16-17.

Keberadaan para pendatang terdahulu ke Australia ini terlihat dari adanya persamaan antara kata-kata pada bahasa yang digunakan orang Makassar dan penduduk pantai masyarakat Australia. Keberadaan kapal-kapal tradisional Makassar atau ‘prau’ dan sejumlah artefak Makassar di pemukiman Aborijin yang terletak di wilayah pantai barat dan utara Australia merupakan bukti lain dari warga pendatang yang berasal dari Indonesia.

Seusai Perang Dunia II atau antara 1947 hingga 1971, populasi Muslim di Australia meningkat dari 2.704 menjadi 22.371 jiwa. Data terbaru yang dimiliki pemerintah Australia saat ini menunjukkan umat Muslim di Australia mencapai 375.000 jiwa.

“Sebenarnya saat ini ada sekitar 600.000 – 700.000 umat Muslim di Australia. Namun, karena tidak keharusan bagi warga Australia untuk mencantumkan status agama saat sensus penduduk dilaksanakan setiap 5 tahun sekali maka sebagian besar di antara mereka tidak diketahui pasti jumlahnya,”kata Amin Hady, anggota Komite Penasehat bagi Perdana Menteri Australia untuk Urusan Agama Islam.

Amin Hady yang menjadi ketua Yayasan Studi dan Informasi Islam (FISI) sangat antusias menceritakan keharmonisan hubungan antara umat Muslim dengan pemeluk agama Yahudi dan Nasrani di Australia. Pria asal Salatiga yang telah menjadi warga negara Australia dan mendirikan FISI sejak 1997 itu menjelaskan toleransi antarumat beragama terbentuk di antaranya lewat kontak antartokoh agama yang diadakan 2 bulan sekali di Australia.

Kontak antaragama ini juga diadakan antarpelajar dan mahasiswa di Australia untuk menghilangkan persepsi negatif dari suatu agama. “Tadinya, siswa sekolah sempat berpandangan negatif terhadap kata jihad dan zionis. Tetapi setelah mereka mengikuti kegiatan kontak antaragama di sekolah, pandangan negatif itu mulai terkikis,” kata Amin Hadi.

Pria berusia 59 tahun yang memiliki 3 anak ini menerangkan kegiatan kontak antaragama itu juga bisa berupa Youth Camp yang diadakan selama 10 hari dengan mencakup kunjungan ke beberapa rumah ibadah. “Bahkan ada satu sekolah Islam di sini yang kepala sekolahnya orang Yahudi,” kata Amin Hadi yang mencoba menggambarkan tidak adanya kerengangan antarumat di Sydney.

Sekolah dan Rumah Ibadah

Jumlah umat Islam di Australia terus menunjukkan peningkatan. Beberapa sekolah Islam seperti di Sydney, misalnya, tidak dapat menampung jumlah murid yang terus bertambah.

“Di Sydney hanya ada 16 sekolah Islam sehingga tidak jarang hingga 400 murid tidak kebagian tempat lagi,” kata Amin. “Tetapi anak-anak itu tetap dapat bersekolah di sekolah umum,” tambahnya.

“Begitu juga shalat Jumat bisa diadakan sampai 2 kali di suatu masjid,” jelas Amin yang menerangkan terdapat sekitar 36 masjid di Sydney.

“Sekitar 200.000 umat Muslim di Australia berasal dari Libanon dan Turki. Kalau orang Muslim Indonesia di sini ada sekitar 15.000.”

Makanan Halal

Makanan dengan sertifikasi halal mendapatkan tempat tersendiri di rumah makan, tempat pemotongan daging atau ternak. Beberapa rumah makan dan rumah potong daging memasang logo halal untuk meyakinkan ke konsumen tentang sertifikasi yang telah mereka dapatkan.

Ketua Halal Certification Authority Australia Mohamed El-Mouelhy menerangkan sertifikasi halal hanya diberikan kepada perusahaan jasa makanan yang telah memenuhi standar kesehatan dan ajaran Islam. “Kami akan mengadakan investigasi ke perusahaan yang mengajukan permohonan sertifikasi sebelum kami mengeluarkan sertifikasi,” kata Mohamed El-Mouelhy saat meninjau sebuah rumah makan Padang, Pondok Buyung, yang terletak di 124 Anzac Parade, Kensington, Sydney.

Sementara menurut Amin Hadi, sertifikasi halal setidaknya memberikan keuntungan tersendiri bagi pemilik jasa makanan karena makanan yang dijajakan tidak hanya dicari oleh pasar dari kalangan umat Muslim tetapi juga umat non-Muslim. “Karena semakin banyak pengunjung berdatangan ke rumah makan dengan sertifikasi halal semakin bertambah juga rumah makan yang berusaha mendapatkan sertifikasi,” kata Amin Hadi.

“Biasanya yang datang ke sini orang Pakistan, Bangladesh, Singapura dan Yahudi,” kata Syarief, pemilik rumah makan Pondok Buyung. “Masalah kepercayaan atau terbiasa dengan makanan Indonesia karena pernah ke Bali sebelumnya,” jelas pria asal Kepulauan Riau itu saat ditanya alasan dari pengunjung mendatangi rumah makannya. Syarief yang telah memulai usahanya itu sejak 1976 mengaku mendapatkan omzet rata-rata 2.000 dollar Australia per harinya.

Eropa Didesak Masukkan Israel Sebagai Daftar Teroris

Mantan Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniya, menyerukan rakyat Palestina di Tepi Barat bangkit melawan langkah Israel. Gerakan perlawanan Islam Palestina (Hamas) mendesak Uni Eropa memasukkan Israel dalam daftar negara yang mendukung terorisme karena keterlibatan badan intelijennya, Mossad, dalam pembunuhan tokoh Hamas, Mahmud Abdel Rauf al-Mabhouh, di Dubai, 19 Januari lalu.

“Kami mengimbau Uni Eropa untuk menempatkan entitas Yahudi (Israel) dalam daftar negara pendukung organisasi terorisme karena menghadirkan bahaya bagi perdamaian internasional,” ungkap Hamas dalam pernyataan yang dirilis, Selasa (23/2) kemarin.

Imbauan tersebut menanggapi kutukan keras yang disampaikan 27 menteri luar negeri Uni Eropa yang berkumpul di Brussels, Belgia, sehari sebelumnya.

Forum tersebut membahas penyalahgunaan paspor Inggris, Prancis, Irlandia, dan Jerman oleh 11 tersangka pembunuh untuk masuk ke Dubai, Uni Emirat Arab. Semua tersangka diketahui berdarah Israel.

Hamas yang menguasai Gaza sejak 2007, terpecah dengan Otoritas Palestina yang menguasai Tepi Barat. Organisasi ini dimasukkan ke dalam daftar organisasi teroris oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat, hanya karena perjuangannya menghadapi pendudukan Israel di tanah Palestina.

Di Dubai, kepolisian setempat kembali merilis empat tersangka baru pembunuh Mabhouh yang menggunakan paspor Inggris dan Irlandia.

Dengan demikian dalam operasi yang diyakini diotaki Mossad itu, terlibat 15 tersangka. Sejauh ini, Israel membantah keterlibatan Mossad. Namun, dalam forum di Brussels, Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman, gagal meyakinkan para mitranya jika Israel tidak terlibat.

“Dia tidak membantah,” ujar Menlu Irlandia, Micheal Martin. “Tidak ada alasan yang dikemukakan bahwa Israel tidak terlibat dalam pembunuhan petinggi Hamas.”

Sementara itu, di Gaza kemarin, Perdana Menteri Ismail Haniya yang kekuasaannya atas pemerintahan Palestina tergusur sejak perpecahan dengan faksi Fatah pada 2007, menyerukan rakyat Palestina di Tepi Barat bangkit melawan langkah Israel yang membangun tempat suci Yahudi dengan merobohkan sejumlah situs Palestina di Bethlehem dan Hebron.

“Proyek tersebut ingin menghapus identitas dan mencuri sejarah bangsa kita,” tegas Haniya. Langkah Pemerintah Israel tersebut, termasuk pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat, memicu bentrok antara pemuda Palestina dan polisi Israel, Senin. Bentrok berlanjut hingga kemarin. [afp/kaj/www.hidayatullah.com]

Wanita Madura Mengaku sebagai Nabi

Siti Hajar Dipercaya Pindahkan Arwah ke Surga
SUMENEP – Surya- Untuk kesekiankalinya ada seorang manusia di zaman modern ini mengaku sebagai nabi. Dan faktanya masih banyak orang percaya. Kali ini Samawiyah, 30, alias Siti Hajar, warga Desa Angon-Angon, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean, Sumenep, yang menggegerkan warga karena mengaku sebagai seorang nabi yang diutus ke muka bumi untuk menyelamatkan umat manusia.

Janda muda yang sudah sekitar dua tahun ditinggal suami menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia itu memproklamirkan sebagai nabi dalam setahun terakhir. Bahkan, ia berhasil merekrut puluhan warga sekitar untuk menjadi pengikut dan penganut ajarannya.

Ajaran itu kemudian menyebar ke warga lain, termasuk ke kalangan ulama dan tokoh agama dan musyawarah pimpinan kecamatan (Muspika) Kecamatan Arjasa. Sehingga ajaran tersebut dinyatakan sebagai aliran sesat yang sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Di antara ajaran Samawiyah alias Siti Hajar yang meresahkan dan bertentangan dengan ajaran agama Islam yakni mengajarkan bahwa Tuhan memberikan keleluasaan kepada umat untuk berbuat sendiri-sendiri termasuk menjalankan ritual keagamaan.

“Karena itu katanya, umat Islam tidak perlu menunaikan rukun Islam yang kelima, yakni naik haji. Karena di dalam diri kita telah ada Kabah,” papar Bukhari, warga sekitar yang mendengar pengakuan pengikut Siti Hajar, Senin (22/2).

Yang lebih mencengangkan, ajaran Samawiyah ini juga menyebut bahwa salat bukan hal utama. Tetapi justru lebih menekankan agar para pengikut yang terdiri dari tetangga dan kerabat dekat Siti Hajar melaksanakan puasa seumur hidup. “Pokoknya banyak penyimpangan dari ajaran Islam yang sesungguhnya,” imbuh Bukhari.

Tidak ingin ajaran Samawiyah alias Siti Hajar meluas, maka warga sekitar yang merasa risih melapor ke tokoh masyarakat, ulama, aparat desa dan Polsek Arjasa.

Kepala Desa Angon-Angon, Moh Ridha, mengaku terkejut mendengar laporan yang menyebutkan kalau ada warga mengaku nabi. Sehingga kemudian ditindaklanjuti dengan mengunjungi rumah Samawiyah. Dalam pengamatannya ternyata benar kalau janda itu mengajarkan aliran sesat.

“Bahkan nama sebenarnya Samawiyah itu sekarang sudah berganti Siti Hajar. Katanya namanya berubah setelah mendapat wangsit sebagai nabi,” ujar Moh Ridho.

Karena itu, saat ini nama asli Samawiyah tenggelam dan yang populer Siti Hajar. Para pengikutnya pun percaya dia sebagai nabi, karena pada saat menyampaikan ajaran selalu dilengkapi dengan dalil-dalil yang masuk akal serta gampang dicerna.

“Apalagi pada saat mengajarkan ilmu kepada para pengikutnya disertai dengan tingkah laku aneh Samawiyah, bahkan sampai kejang-kejang seperti orang yang sedang kesurupan,” tambah Moh Ridho.

Selain ajaran yang menyatakan bahwa pengikutnya tidak perlu naik haji, Samawiyah juga mengaku kalau dirinya bisa memindahkan arwah anggota keluarga yang sudah meninggal dan sedang disiksa di dalam neraka ke dalam surga. “Katanya dalam satu tahun ini sudah memindahkan lima arwah dari neraka ke surga,” sambung Moh Ridho dari ujung telepon.

Kapolsek Arjasa, Iptu Turmudzi, yang dikonfirmasi via telepon selulernya membenarkan kalau di wilayahnya ada warga yang mengaku seorang nabi. Sehingga kemudian yang bersangkutan pernah dimintai keterangan di Polsek Arjasa.

“Sewaktu dimintai keterangan, Samawiyah mengaku mengubah nama menjadi Siti Hajar karena wangsit langsung dari Allah bukan karangan sendiri,” tandas Turmudzi.

Karena itu, lanjut Turmudzi, ajaran menyimpang yang dilakukan Samawiyah telah disimpulkan dalam pertemuan antara Muspika dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Arjasa sebagai bentuk ajaran aliran sesat dan harus dihentikan.

Dalam pertemuan di Kantor Kecamatan Arjasa, menurut Turmudzi, Samawiyah mengaku bersalah dan ingin bertobat. Untuk itu, Samawiyah akan dikembalikan pada keluarga. nriv

Menanam Benih2 Muda Keemasan…

Sebelum kalian memperbaiki orang lain hendaklah kalian memperbaiki diri kalian terlebih dahulu, wahai para pendidik! Kerjakanlah kebaikan di hadapan anak didik kalian dan tinggalkanlah kejelekan. Perilaku yang baik dari para pendidik dan orangtua di hadapan anak-anak merupakan pendidikan yang paling utama.

Maka yang wajib dilakukan (oleh orangtua dan pendidik) antara lain:

1. Mengajarkan anak mengucapkan Laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah dan memberikan pemahaman tentang maknanya ketika mereka dewasa (telah mampu diajak berpikir, serta membedakan baik dan buruk -red muslimah.or.id), yaitu: “Tidak ada Ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi kecuali Allah semata.”

2. Menanamkan rasa cinta kepada Allah dan keimanan kepada-Nya ke dalam hati sang anak, bahwasanya Allah adalah Dzat Yang Menciptakan kita, Pemberi rezeki, Penolong kita, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

3. Memotivasi anak untuk meraih surga, bahwasanya surga itu diperuntukkan bagi orang-orang yang shalat, puasa, menaati kedua orang tua, dan mengamalkan perbuatan yang diridhai Allah, serta memperingatkan mereka tentang neraka yang diperuntukkan bagi orang-orang yang meninggalkan shalat, durhaka kepada orang tua, melakukan perbuatan yang membuat Allah murka, berhukum dengan selain syariat-Nya, memakan harta manusia dengan cara menipu, berdusta, riba, dan yang lainnya.

4. Mengajarkan anak agar senantiasa berdoa dan memohon pertolongan hanya kepada Allah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak pamannya:

إذَا سَأَلْتَ فَسْأَلِ اللهَ وَ إذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ.
Artinya: “Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan maka mohon pertolonganlah kepada Allah.” (Hadits riwayat At-Tirmidzi, dan dia berkata “hadits hasan shahih”)

***

Sumber: Dikutip dari Kiat Mencetak Anak Shalih (terj. Kayfa Nurabbi Awlaadanaa At-Tarbiyyah Al-Islamiyah Ash-Shahiihah), karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, penerbit: Pustaka Ulil Albab, Bogor, Rabi’ul Awwal 1428/April 2007); dengan pengubahan seperlunya oleh redaksi

http://www.muslimah or.id via voa-islam

Dituduh Culik Korban Haiti, Misionaris AS dituntut

Anak-anak korban gempa di Haiti rentan penculikan. Kasus sama, pernah terjadi pada anak-anak korban gempa Aceh.
Haiti menuntut 10 orang misionaris asal AS dengan tuduhan menculik dan berkonspirasi dengan cobaan menyelundupkan 33 anak korban gempa keluar dari negara itu.

Pejabat Haiti mengatakan kasus ini tengah diselidiki oleh pengadilan dan jika terbukti bersalah ancamannya adalah hukuman penjara yang lama.

BBC melaporkan para misionaris ini tertangkap tangan membawa anak-anak korban gempa dengan alasan akan dimasukkan ke dalam panti asuhan di Republik Dominika. Namun kemudian diketahui beberapa anak masih memiliki orang tua yang masih hidup.

Usai persidangan 10 orang misionaris tersebut kembali ditahan di sebuah penjara di Haiti. Mereka dibawa dengan sebuah mobil yang telah disiapkan di luar pengadilan.

“Saya merasa baik, saya percaya dengan Tuhan,” demikian pernyataan pemimpin misionaris Laura Silsby kepada wartawan.

Lima orang lelaki dan lima orang wanita yang berasal dari Idaho tersebut semestinya sudah menghadapi pengadilan awal pekan ini, tapi ditunda karena kekurangan tenaga penerjemah.

Perdana Menteri Haiti Jean-Max Bellerive mencap warga negara Amerika itu sebagai ”penculik”.

Menteri Kehakiman Paul Denis mengatakan mereka tetap disidangkan di Haiti walau kerusakan terjadi di sejumlah bangunan pengadilan negeri itu. Pernyataan ini menanggapi saran yang menyebut para misionaris tersebut bisa diadili di AS.

“Yang mereka langgar adalah hukum Haiti dan itu menjadi wewenang otoritas pengadilan kami untuk melangsungkan persidangan di sini,” kata Paul Denis kepada kantor berita AFP.

“Saya tidak melihat ada satu alasan untuk mereka disidangkan di Amerika Serikat,” katanya.
”Satu desa”

Anak-anak yang berkisar antara dua hingga 12 tahun itu kini telah dirawat lembaga pemerhati anak asal Austria SOS Children’s Village di Port-au-Prince.

21 anak-anak tersebut berasal dari satu desa di luar ibu kota dan diserahkan atas sepengetahuan orang tua mereka.

Seperti yang dilaporkan kantor berita Associated Press, warga di desa Callebas mengatakan mereka menyerahkan anak mereka melalui pekerja panti asuhan setempat yang mengaku bekerja untuk warga negara Amerika.

Para pekerja itu menjanjikan kepada para keluarga kalau anak-anak mereka akan mendapatkan pendidikan yang layak dari para misionaris di Republik Dominika.

Sejumlah keluarga korban gempa mengaku jika anak-anak tersebut kembali maka hal itu akan menyulitkan bagi mereka.

Pemimpin misionaris Laura Silsby mengatakan kelompoknya telah bertemu dengan seorang pendeta Haiti ketika mereka tiba pekan lalu, dan pendeta itu membantu mereka mengumpulkan anak-anak tersebut. Dia juga mengaku tidak memegang surat ijzn untuk bekerja di negara itu.

“Niat kami adalah menolong anak-anak tersebut yang paling membutuhkan bantuan, mereka telah kehilangan kedua orangtua, atau satu diantara orangtua dan ada juga yang ditelantarkan orang tua mereka,” katanya.

Kasus Aceh
Kasus seperti ini mengingatkan peristiwa tahun 2005, saat badai tsunami menghantan Aceh. Kala itu, umat dikejutkan dengan adanya rumor 300 anak Aceh korban tsunami dibawa WorldHelp, sebuah lembaga misionaris asal AS yang ikut membantu menjadi relawan di Aceh.

Namun kasus yang sempat menghebohkan Indonesia itu sempat dibantah oleh pendeta penghubung WorldHelp di Indonesia, Henry Lantang maupun dengan WorldHelp yang berbasis di Virginia AS .

Sebelumnya, informasi adanya anak-anak Aceh yang akan diadopsi orang asing itu sempat beredar antar SMS . [bbc/hid/www.hidayatullah.com]

MUI: Film “Hantu Puncak Datang Bulan” Melanggar Kode Etik

DEPOK–Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) kota Depok, KH Muhammad Idris Abdul Somad, mengatakan, film “Hantu Puncak Datang Bulan” melanggar kode etik penyiaran. Film yang dibintangi Trio Macan dan Andi Soraya tersebut dinilainya tidak sesuai dengan syariah ajaran Islam. Menurutnya, meskipun ada kebebasan dalam Islam, namun, kebebasan tersebut harus tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.

“Kebebasan yang ideal dalam Islam apabila tidak melanggar norma-norma yang ada,” ujar Idris, di Depok, Rabu (03/2).

Menurut Idris, sebenarnya Islam tidak menghambat seseorang dalam berekspresi. Hanya saja, kata Idris, eskpresi itu tidak boleh melampaui aturan dan norma. Idris menjelaskan, kebebasan seseorang baik dalam seni maupun mencari nafkah terbuka seluasnya, tentunya halal dan baik.

Lebih lanjut, dirinya menegaskan, ada batasan yang harus dilalui dan tidak boleh dilanggar karena dapat berimbas pada pola hidup bermasyarakat. Jika di dalamnya ada unsur mempertontonkan aurat pada publik, jelas melanggar kode etik penyiaran. Aturan-aturan tersebut, lanjut Idris, tidak hanya pada pemutaran film yang menampilkan pornografi dan kekerasan tersebut, tapi semua yang mengandung pornografi dan kekerasan.

Meski demikian, ia mengaku jika MUI hanyalah sebuah lembaga yang hanya bisa memfatwakan atau mengarahkan saja kepada masyarakat tentang kedudukan hukum suatu masalah, tidak bisa menghentikan. “MUI sudah menjelaskan masalah yang mengandung pornografi. Itu sekedar fatwa dan bersifat arahan agama. Yang lebih berhak lagi dalam penentuan hukum ya yang berwenang,” terangnya.

Diakuinya, langkah yang akan ditempuh pihak MUI adalah dengan melakukan desakan pada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang memiliki wenang dalam memberikan izin dan keberatan dengan pemutaran film tersebut.