Keprihatinan Komunitas Islam Greater Killeen atas Ulah Jamaahnya, Mayor Nidal Malik Hasan

Curhat Takut Masuk Neraka karena Ditugaskan di Afghanistan

Tragedi Fort Hood mengoyak kedamaian komunitas Islam Greater Killeen, Texas. Pasalnya, Mayor Nidal Malik Hasan, penembak di basis militer terbesar AS itu, adalah jamaahnya.

SALAT Jumat di Masjid Killeen, Highway 195, dekat Fort Hood, akhir pekan ini terasa beda. Khotbah yang disampaikan oleh dokter Manzoor Farooqi kental dengan kalimat keprihatinan atas perbuatan salah seorang jamaah mereka, Hasan.

Farooqi yang juga pemimpin masjid itu menegaskan bahwa komunitas Islam mengutuk tindakan pengecut yang menewaskan sejumlah anggota militer yang berjuang demi negara tersebut. “Dia terpelajar. Seorang psikiater. Saya tidak percaya dia bisa melakukan hal bodoh seperti itu,” ujar pemimpin masjid milik komunitas muslim yang beranggota sekitar 75 keluarga tersebut.

Farooqi menyatakan sangat kaget ketika melihat wajah Hasan ditayangkan di layar beling dan diidentifikasi sebagai penembak di Fort Hood.

Dokter anak-anak tersebut tidak asing dengan sosok Hasan. Sebab, dua bulan terakhir dia rajin beribadah di masjid komunitas tersebut. Apalagi, di Masjid Killeen hanya ada sekitar sepuluh jamaah yang membalut tubuh dengan seragam militer layaknya Hasan saat salat maupun mengaji.

Sejurus kemudian, Farooqi mengajak 40-an jamaah untuk mendoakan anggota militer yang tewas di tangan Hasan. “Tak ada kata-kata yang bisa menjelaskan kejadian kemarin. Mari kita mengheningkan cipta sejenak untuk mendoakan mereka yang meninggal,” terang Farooqi menjelang salat Jumat yang dipimpin imam masjid itu, Syed Ahmed Ali.

Farooqi, layaknya muslim Amerika Serikat yang lain, khawatir sentimen terhadap Islam kembali menguat pascainsiden menghebohkan yang menewaskan 13 personel militer itu. Kehidupan bertoleransi antarumat beragama yang selama ini terjaga di lingkungan mereka bisa terganggu.

Kecaman serupa dilontarkan oleh Nihad Awad. Direktur eksekutif nasional Dewan Hubungan Islam-Amerika itu berkata, “Komunitas muslim Amerika sangat mengutuk tragedi penembakan tersebut. Kita harus memastikan bahwa korban luka mendapatkan perawatan dengan baik dan keluarga korban tewas diberi kesempatan untuk berkabung.”

Senada, Sersan Fahad Kamal, 26, salah seorang jamaah salat Jumat di Masjid Killeen, melontarkan kekecewaan. “Saya percaya bahwa itu merupakan masalah individu dan tidak berkaitan dengan agama,” ujar petugas medis yang saat itu mengenakan seragam angkatan udara tersebut. Dia baru kembali ke AS tahun lalu, setelah bertugas 15 bulan di Afghanistan.

Kalangan muslim tak ingin ada pandangan keliru tentang Islam, agama yang sejatinya menebarkan perdamaian di muka bumi. Mereka menegaskan bahwa kebrutalan Hasan tak mencerminkan sikap muslim secara general.

Selama ini, komunitas Islam Greater Killeen hidup rukun dengan penganut Kristen di lingkungan tersebut. “Setelah peristiwa 9/11, tidak ada yang terjadi di sini. Kami hidup berdampingan dengan damai,” ungkap Ajsaf Khan yang mempunyai tiga toko ritel bersama adiknya, Abdul Khan, di wilayah tersebut.

Meski hujatan dilontarkan terhadap Hasan, simpati juga mengalir. Sejumlah rekan justru mengingatkan para petinggi militer agar mengevaluasi kebijakan yang mungkin membuat pria 39 tahun itu muntab.

“Kala seorang pria kulit putih menembak di sebuah kantor pos, mereka bilang itu hanya masalah komplain biasa tentang pelayanan masyarakat. Tapi, mengapa ketika seorang muslim yang melakukan hal tersebut, semua orang menganggap sebagai jihad,” ujar Victor Benjamin II, 30, mantan anggota militer yang juga rekan Hasan.

Dia menambahkan, pihak yang bertanggung jawab harus menelusuri lebih lanjut kasus tersebut. “GI (sebutan untuk perlengkapan militer AS, Red) seperti peralatan militer lain. Ketika menyalak, siapa pun yang memegangnya, itulah yang bertanggung jawab,” tegas dia. Dengan kata lain, bukan latar belakang keyakinan seseorang yang memegang senjata yang harus dipermasalahkan, melainkan tindakannya.

Hasan dilaporkan merasa tersudut karena tugas kemiliteran yang bertolak belakang dengan keyakinan agamanya. Dia pernah bercerita kepada sejumlah rekan di masjid, antara lain, Duane Reasoner Jr. Dikatakan, Hasan mengeluh karena akan dikirim ke Afghanistan pada 28 November 2009. Dia tidak menyukai penugasan itu.

“Dia (Hasan, Red) mengatakan harus berhenti sebagai tentara. Dalam Alquran disebutkan, seorang muslim tidak boleh berkomplot dengan Yahudi, Kristen, maupun yang lain. Jika pergi berperang melawan muslim, kau akan masuk neraka,” ucap Duane. (cak/ami)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: