Ada Agama di Jatim Kiblatnya Gunung

Tulungagung – Surya – Berkembang di Tulungagung * Salat Sehari Sekali, Puasa 17 Hari. Muncul agama atau ajaran baru yang berkembang di Tulungagung. Mereka menamakan diri penganut Baha`i dengan kitab suci Akhdas dan salatnya berkiblat ke Gunung Karmel atau Karamel di Israel. Karena dinilai meresahkan, warga meminta pemerintah membubarkan kelompok tersebut.

Selain itu, para pengikut ajaran ini menerbitkan surat nikah sendiri untuk penikahan antarpengikutnya, serta meminta dalam KTP dituliskan nama agama Baha’i. Padahal di Indonesia hanya ada enam agama yang diakui pemeritah, sehingga warga minta pemerintah menertibkannya.
Seperti disampaikan Abu Sofyan Firojuddin, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tulungagung, pihaknya mendapat laporan dari warga Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, yang menyebutkan bahwa para pengikut ajaran Baha’i sudah keluar dari ajaran agama yang diakui pemerintah.
“Kami memang mendapat masukan dari warga yang meminta agar ajaran Baha’i ditertibkan,” ujar Abu, Minggu(25/10).
Dijelaskan Abu, ajaran agama dikatakan sesat jika ajaran itu telah menistakan agama resmi yang telah diakui pemerintah, sedangkan ajaran Baha’i memang punya dasar sendiri. Seperti memiliki kitab suci Akhdas, nabi Muhammad Husain Ali, dan berkiblat ke Gunung Carmel di Israel. Carmel merupakan pegunungan di barat laut Israel di dekat Pantai Mediterania.
“Jadi, kami berhati-hati dalam menyikapi ini, apalagi ada desakan agar Baha`i dibubarkan. Karena Baha’i tak ada kaitannya dengan enam agama yang diakui pemerintah, maka MUI Tulungagung menyerahkan masalah ini pada negara,” jelasnya.
Abu mengakui MUI Tulungagung pernah memanggil Slamet Riyadi, warga Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, yang mengembangkan ajaran tersebut. Slamet Riyadi mengembangkan ajaran tersebut bersama Sulur, serta 11 tokoh lainnya di Tulungagung.
Saat pemanggilan itu, Slamet Riyadi menjelaskan bahwa ajaran Baha’i memiliki cara ibadah tersendiri, yakni dengan membedakan waktu beribadah menjadi tiga bagian yaitu ibadah jangka pendek, menengah, dan panjang.
Pengikutnya pun bebas memilih. Kalau memilih beribadah jangka pendek dan menengah, waktunya mulai matahari terbit hingga matahari tenggelam. “Sedangkan ibadah panjang waktunya 24 jam. Pengikutnya bebas memilih,” ungkapnya.
Selain ibadah salat sekali dalam sehari, para pengikut Baha`i juga merayakan hari raya atau Lebaran. Tahun 2009 ini, mereka merayakan Lebaran pada Maret lalu, yang didahului dengan ibadah puasa selama 17 hari.
Diungkapkan Abu, ajaran ini muncul dan berkembang di Tulungagung sejak Maret 2009 lalu dengan Slamet Riyadi, Sulur, dan 11 orang lainnya asal Tulungagung sebagai tokohnya. Kini jumlah pengikutnya sedikitnya 157 orang.
Menurut beberapa warga, Slamet Riyadi beberapa tahun lalu pernah berguru keluar Tulungagung. Ketika kembali ke Tulungagung, terutama sejak tiga tahun lalu, ia mulai mengajarkan ajaran Baha`i. Tidak jelas ia pernah berguru kemana.
Ketika ditemui wartawan di rumahnya di Desa Ringinpitu, Slamet Riyadi yang berusia sekitar 50-an tahun itu menolak diwawancarai maupun diambil gambarnya.

Diselidiki
Masih kata Abu Sofyan Firojuddin, ketika dipanggil MUI, Slamet Riyadi mengatakan bahwa agamanya bukan sekte atau pecahan ajaran dari salah satu agama yang diakui pemerintah. Juga disebutkan bahwa ajaran Baha`i mengenal tiga macam ibadah, merayakan Lebaran, serta menentukan puasa sendiri sesuai perhitungan atau aturan dalam kitab suci mereka, Akhdas.
Demikian juga kiblat atau arah menghadap salat mereka adalah Gunung Carmel di Israel, bukan ke arah Ka’bah di Makkah seperti umat Islam.

Terkait diterbitkannya buku nikah sendiri untuk pernikahan antarpengikutnya, menurut Abu tentu tidak bisa diakui keabsahannya. Apalagi pengikutnya dianggap sah menikah, hanya jika dengan sesama pengikut Baha’i. “Masalah surat nikah ini wewenang Depag (Departemen Agama). Jadi, berdasarkan aturan, pernikahan seperti itu jelas tidak sesuai dan tidak sah,” papar Abu.

Dalam penanganan ajaran Baha’i ini, Abu mengatakan MUI masih menyelidikinya, apakah termasuk ajaran sesat atau melanggar, sedangkan Depag menangani masalah surat nikah yang dicetak oleh pengikut Baha’i.

Namun untuk penyelesaiannya, kata Abu, masalah agama baru ini akan diserahkan kepada negara dalam hal ini Depag dan instansi yang berwenang lainnya untuk memutuskan apakah ajaran Baha’i diperbolehkan berkembang. “Sebab, pengikutnya juga minta agar dalam pengurusan KTP dicantumkan agama Baha’i, padahal agama yang resmi diakui pemerintah ada 6 yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu,” katanya.

Secara terpisah, Kasi Urais Depag Tulungagung, Kusnan Thohari ketika dikonfirmasi mengenai keberadaan ajaran Baha’i mengatakan pihaknya bersama MUI sudah mengambil sikap yakni melakukan pendekatan agara para pengikut ajaran Baha’i tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum.

“Secara kelembagaan, Depag menghormati setiap penganut kepercayaan atau aliran, dengan syarat tidak melanggar aturan hukum yang ada. Baha’i bukan agama, tapi ajaran atau aliran saja, agama yang diakui pemerintah hanya ada enam,” tutur Kusnan.

Mengenai aturan pernikahan harus sesama pengikut Baha’i dan menerbitkan akta sendiri, menurutnya jelas melanggar UU No 1/1974 tentang pernikahan. Untuk agama Islam dicatat di KUA dan non Islam di Catatan Sipil. Hal inilah yang menurut Kusnan melanggar hukum, serta diserahkan sepenuhnya pada kepolisian untuk mengusutnya.

“Sebenarnya Baha’i pernah muncul sekitar tahun 1967-an, namanya Islam Baha’I, tapi tetap mengakui agamanya Islam. Kalau yang sekarang Baha’i saja, maka Depag berusaha menyikapinya dengan hati-hati jangan sampai mengganggu stabilitas dan kerukunan antar umat beragama serta penganut kepercayaan maupun aliran tertentu,” terangnya.

Mengenai ibadahnya, Kusnan mengaku tak pernah tahu, sebab kitabnya juga menggunakan bahasa sesuai daerah dimana ajaran itu dikembangkan. “Di Indonesia menggunakan kitab berbahasa Indonesia, mungkin di luar negeri menggunakan bahasa Inggris,” katanya.
Secara terpisah, Kapolres Tulungagung, AKBP Rudi Kristantyo membenarkan pihaknya sudah melakukan cek ke lapangan mengenai ajaran Baha’i yang meresahkan warga. “Setelah kita cek, ajaran itu memang berbeda dengan ajaran agama pada umumnya, maka kita minta MUI, Depag, dan pemkab turun tangan meluruskannya,” kata Rudi.

Sementara itu, Ketua MUI Jatim Abdushomad Buchori mengaku pernah mendengar adanya agama Baha’i tersebut. Tapi untuk perkembangan agama itu di Tulungagung, Abdushomad baru mendengar sekarang. “Saya belum mendengar kalau itu juga berkembang di Tulungagung. Biasanya nanti ada laporan. Kalau ada laporan, kami akan tindaklanjuti,” ujar Abdushomad ketika dihubungi, Minggu (25/10).

Menurutnya, pengakuan para pengikut agama Baha’i terhadap kitab suci Akhdas serta Muhammad Husain Ali sebagai nabi menjadi bukti sebagai penodaan agama Islam. Sebab, tidak ada Nabi selain Muhammad.

Ia mengatakan, indikasi penodaan agama yang telah dilakukan oleh para penganut Baha’i itu karena tidak ada lagi ajaran agama baru selain enam agama yang diakui pemeritah.
Kalaupun Baha’i dimasukkan sebagai kepercayaan, kata Shomad, harus diteliti dulu kebenarannya. Untuk itu MUI minta supaya pihak kejaksaan, depag, pemerintah daerah serta aparat kepolisian segera bertindak menyelesaikan masalah ini.

MUI, kata Shomad, tidak bisa bertindak di luar kewenangannya. Biasanya, MUI mengurusi masalah kegamaan saja. “Misalkan, ajaran A ini boleh apa tidak, itu saja. Selebihnya urusan aparat,” jelasnya. ais/iks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: