SYAIR CINTA RABI’AH AL ADAWIYAH

Ophie Poetra Pandhawa 29 Oktober jam 16:45 Balas

Cinta

Cinta itu..
pagarnya api bergunung rindu
hamparan kasih berbaur dendam
berahi kesumat mantra dingin malam
mencari… keasyikan
sendu senjakala
merobek jiwa resah
bagai esuk tak mungkin hadir

Cinta itu….
Mulus jiwanya
hening sukma nya
beku firasat nya
segala nya
hanya Dia

Cinta itu…
Buta kesedaran siang
mentari terbit dinihari
bulan kesiangan mencari si pungguk
menari berkaca jiwa gelora
Panahan arjuna benar-benar terasa

Cinta itu…
hangat dan hidup
hidup dengan Nya
lalu… di sini
aku lemas dengan Nya.

#
Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cintaMu
Hingga tak ada sesuatupun yang menggangguku dalam jumpaMu
Tuhanku, bintang-gemintang berkelap-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu-pintu istana pun telah rapat tertutup
Tuhanku, demikian malampun berlalu
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku Kau Terima
Hingga aku berhak mereguk bahagia
Ataukah itu Kau Tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemahakuasaan-Mua
Inilah yang akan selalu ku lakukan
Selama Kau Beri aku kehidupan
Demi kemanusiaan-Mu,
Andai Kau Usir aku dari pintuMu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku padaMu sepenuh kalbu

#
Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuhMu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabatMu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku

#
Aku mengabdi kepada Tuhan
Bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku padaNya
Ya Allah, jika aku menyembahMu
Karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembahMu
Karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembahMu
Demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajahMu
Yang abadi padaku

#
Ya Allah
Semua jerih payahku
Dan semua hasratku di antara segala
Kesenangan-kesenangan
Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau
Dan di akhirat nanti, diantara segala kesenangan
Adalah untuk berjumpa denganMu
Begitu halnya dengan diriku
Seperti yang telah Kau katakana
Kini, perbuatlah seperti yang Engkau Kehendaki

#
Aku mencintaiMu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diriMu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingatMu
Cinta karena diriMu, adalah keadaanMu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
BagiMu pujian untuk semua itu

#
Buah hatiku, hanya Engkau yang kukasihi
Beri ampunlah pembuat dosa yang datang kehadiratMu
Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku
Hatiku telah enggan mencintai selain dari Engkau

#
Hatiku tenteram dan damai jika aku diam sendiri
Ketika Kekasih bersamaku
CintaNya padaku tak pernah terbagi
Dan dengan benda yang fana selalu mengujiku
Kapan dapat kurenungi keindahanNya
Dia akan menjadi mihrabku
Dan rahasiaNya menjadi kiblatku
Bila aku mati karena cinta, sebelum terpuaskan
Akan tersiksa dan lukalah aku di dunia ini
O, penawar jiwaku
Hatiku adalah santapan yang tersaji bagi mauMu
Barulah jiwaku pulih jika telah bersatu dengan Mu
O, sukacita dan nyawaku, semoga kekallah
Jiwaku, Kaulah sumber hidupku
Dan dariMu jua birahiku berasal
Dari semua benda fana di dunia ini
Dariku telah tercerah
Hasratku adalah bersatu denganMu
Melabuhkan rindu

#
Sendiri daku bersama Cintaku
Waktu rahasia yang lebih lembut dari udara petang
Lintas dan penglihatan batin
Melimpahkan karunia atas doaku
Memahkotaiku, hingga enyahlah yang lain, sirna
Antara takjub atas keindahan dan keagunganNya
Dalam semerbak tiada tara
Aku berdiri dalam asyik-masyuk yang bisu
Ku saksikan yang datang dan pergi dalam kalbu
Lihat, dalam wajahNya
Tercampur segenap pesona dan karunia
Seluruh keindahan menyatu
Dalam wajahNya yang sempurna
Lihat Dia, yang akan berkata
“Tiada Tuhan selain Dia, dan Dialah Yang maha Mulia.”

#
Rasa riangku, rinduku, lindunganku,
Teman, penolong dan tujuanku,
Kaulah karibku, dan rindu padaMu
Meneguhkan daku
Apa bukan padaMu aku ini merindu
O, nyawa dan sahabatku
Aku remuk di rongga bumi ini
Telah banyak karunia Kau berikan
Telah banyak..
Namun tak ku butuh pahala
Pemberian ataupun pertolongan
CintaMu semata meliput
Rindu dan bahagiaku
Ia mengalir di mata kalbuku yang dahaga
Adapun di sisiMu aku telah tiada
Kau bikin dada kerontang ini meluas hijau
Kau adalah rasa riangku
Kau tegak dalam diriku
Jika akku telah memenuhiMu
O, rindu hatiku, aku pun bahagia

Ada Agama di Jatim Kiblatnya Gunung

Tulungagung – Surya – Berkembang di Tulungagung * Salat Sehari Sekali, Puasa 17 Hari. Muncul agama atau ajaran baru yang berkembang di Tulungagung. Mereka menamakan diri penganut Baha`i dengan kitab suci Akhdas dan salatnya berkiblat ke Gunung Karmel atau Karamel di Israel. Karena dinilai meresahkan, warga meminta pemerintah membubarkan kelompok tersebut.

Selain itu, para pengikut ajaran ini menerbitkan surat nikah sendiri untuk penikahan antarpengikutnya, serta meminta dalam KTP dituliskan nama agama Baha’i. Padahal di Indonesia hanya ada enam agama yang diakui pemeritah, sehingga warga minta pemerintah menertibkannya.
Seperti disampaikan Abu Sofyan Firojuddin, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tulungagung, pihaknya mendapat laporan dari warga Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, yang menyebutkan bahwa para pengikut ajaran Baha’i sudah keluar dari ajaran agama yang diakui pemerintah.
“Kami memang mendapat masukan dari warga yang meminta agar ajaran Baha’i ditertibkan,” ujar Abu, Minggu(25/10).
Dijelaskan Abu, ajaran agama dikatakan sesat jika ajaran itu telah menistakan agama resmi yang telah diakui pemerintah, sedangkan ajaran Baha’i memang punya dasar sendiri. Seperti memiliki kitab suci Akhdas, nabi Muhammad Husain Ali, dan berkiblat ke Gunung Carmel di Israel. Carmel merupakan pegunungan di barat laut Israel di dekat Pantai Mediterania.
“Jadi, kami berhati-hati dalam menyikapi ini, apalagi ada desakan agar Baha`i dibubarkan. Karena Baha’i tak ada kaitannya dengan enam agama yang diakui pemerintah, maka MUI Tulungagung menyerahkan masalah ini pada negara,” jelasnya.
Abu mengakui MUI Tulungagung pernah memanggil Slamet Riyadi, warga Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, yang mengembangkan ajaran tersebut. Slamet Riyadi mengembangkan ajaran tersebut bersama Sulur, serta 11 tokoh lainnya di Tulungagung.
Saat pemanggilan itu, Slamet Riyadi menjelaskan bahwa ajaran Baha’i memiliki cara ibadah tersendiri, yakni dengan membedakan waktu beribadah menjadi tiga bagian yaitu ibadah jangka pendek, menengah, dan panjang.
Pengikutnya pun bebas memilih. Kalau memilih beribadah jangka pendek dan menengah, waktunya mulai matahari terbit hingga matahari tenggelam. “Sedangkan ibadah panjang waktunya 24 jam. Pengikutnya bebas memilih,” ungkapnya.
Selain ibadah salat sekali dalam sehari, para pengikut Baha`i juga merayakan hari raya atau Lebaran. Tahun 2009 ini, mereka merayakan Lebaran pada Maret lalu, yang didahului dengan ibadah puasa selama 17 hari.
Diungkapkan Abu, ajaran ini muncul dan berkembang di Tulungagung sejak Maret 2009 lalu dengan Slamet Riyadi, Sulur, dan 11 orang lainnya asal Tulungagung sebagai tokohnya. Kini jumlah pengikutnya sedikitnya 157 orang.
Menurut beberapa warga, Slamet Riyadi beberapa tahun lalu pernah berguru keluar Tulungagung. Ketika kembali ke Tulungagung, terutama sejak tiga tahun lalu, ia mulai mengajarkan ajaran Baha`i. Tidak jelas ia pernah berguru kemana.
Ketika ditemui wartawan di rumahnya di Desa Ringinpitu, Slamet Riyadi yang berusia sekitar 50-an tahun itu menolak diwawancarai maupun diambil gambarnya.

Diselidiki
Masih kata Abu Sofyan Firojuddin, ketika dipanggil MUI, Slamet Riyadi mengatakan bahwa agamanya bukan sekte atau pecahan ajaran dari salah satu agama yang diakui pemerintah. Juga disebutkan bahwa ajaran Baha`i mengenal tiga macam ibadah, merayakan Lebaran, serta menentukan puasa sendiri sesuai perhitungan atau aturan dalam kitab suci mereka, Akhdas.
Demikian juga kiblat atau arah menghadap salat mereka adalah Gunung Carmel di Israel, bukan ke arah Ka’bah di Makkah seperti umat Islam.

Terkait diterbitkannya buku nikah sendiri untuk pernikahan antarpengikutnya, menurut Abu tentu tidak bisa diakui keabsahannya. Apalagi pengikutnya dianggap sah menikah, hanya jika dengan sesama pengikut Baha’i. “Masalah surat nikah ini wewenang Depag (Departemen Agama). Jadi, berdasarkan aturan, pernikahan seperti itu jelas tidak sesuai dan tidak sah,” papar Abu.

Dalam penanganan ajaran Baha’i ini, Abu mengatakan MUI masih menyelidikinya, apakah termasuk ajaran sesat atau melanggar, sedangkan Depag menangani masalah surat nikah yang dicetak oleh pengikut Baha’i.

Namun untuk penyelesaiannya, kata Abu, masalah agama baru ini akan diserahkan kepada negara dalam hal ini Depag dan instansi yang berwenang lainnya untuk memutuskan apakah ajaran Baha’i diperbolehkan berkembang. “Sebab, pengikutnya juga minta agar dalam pengurusan KTP dicantumkan agama Baha’i, padahal agama yang resmi diakui pemerintah ada 6 yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu,” katanya.

Secara terpisah, Kasi Urais Depag Tulungagung, Kusnan Thohari ketika dikonfirmasi mengenai keberadaan ajaran Baha’i mengatakan pihaknya bersama MUI sudah mengambil sikap yakni melakukan pendekatan agara para pengikut ajaran Baha’i tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum.

“Secara kelembagaan, Depag menghormati setiap penganut kepercayaan atau aliran, dengan syarat tidak melanggar aturan hukum yang ada. Baha’i bukan agama, tapi ajaran atau aliran saja, agama yang diakui pemerintah hanya ada enam,” tutur Kusnan.

Mengenai aturan pernikahan harus sesama pengikut Baha’i dan menerbitkan akta sendiri, menurutnya jelas melanggar UU No 1/1974 tentang pernikahan. Untuk agama Islam dicatat di KUA dan non Islam di Catatan Sipil. Hal inilah yang menurut Kusnan melanggar hukum, serta diserahkan sepenuhnya pada kepolisian untuk mengusutnya.

“Sebenarnya Baha’i pernah muncul sekitar tahun 1967-an, namanya Islam Baha’I, tapi tetap mengakui agamanya Islam. Kalau yang sekarang Baha’i saja, maka Depag berusaha menyikapinya dengan hati-hati jangan sampai mengganggu stabilitas dan kerukunan antar umat beragama serta penganut kepercayaan maupun aliran tertentu,” terangnya.

Mengenai ibadahnya, Kusnan mengaku tak pernah tahu, sebab kitabnya juga menggunakan bahasa sesuai daerah dimana ajaran itu dikembangkan. “Di Indonesia menggunakan kitab berbahasa Indonesia, mungkin di luar negeri menggunakan bahasa Inggris,” katanya.
Secara terpisah, Kapolres Tulungagung, AKBP Rudi Kristantyo membenarkan pihaknya sudah melakukan cek ke lapangan mengenai ajaran Baha’i yang meresahkan warga. “Setelah kita cek, ajaran itu memang berbeda dengan ajaran agama pada umumnya, maka kita minta MUI, Depag, dan pemkab turun tangan meluruskannya,” kata Rudi.

Sementara itu, Ketua MUI Jatim Abdushomad Buchori mengaku pernah mendengar adanya agama Baha’i tersebut. Tapi untuk perkembangan agama itu di Tulungagung, Abdushomad baru mendengar sekarang. “Saya belum mendengar kalau itu juga berkembang di Tulungagung. Biasanya nanti ada laporan. Kalau ada laporan, kami akan tindaklanjuti,” ujar Abdushomad ketika dihubungi, Minggu (25/10).

Menurutnya, pengakuan para pengikut agama Baha’i terhadap kitab suci Akhdas serta Muhammad Husain Ali sebagai nabi menjadi bukti sebagai penodaan agama Islam. Sebab, tidak ada Nabi selain Muhammad.

Ia mengatakan, indikasi penodaan agama yang telah dilakukan oleh para penganut Baha’i itu karena tidak ada lagi ajaran agama baru selain enam agama yang diakui pemeritah.
Kalaupun Baha’i dimasukkan sebagai kepercayaan, kata Shomad, harus diteliti dulu kebenarannya. Untuk itu MUI minta supaya pihak kejaksaan, depag, pemerintah daerah serta aparat kepolisian segera bertindak menyelesaikan masalah ini.

MUI, kata Shomad, tidak bisa bertindak di luar kewenangannya. Biasanya, MUI mengurusi masalah kegamaan saja. “Misalkan, ajaran A ini boleh apa tidak, itu saja. Selebihnya urusan aparat,” jelasnya. ais/iks

Bahas Seks Luar Nikah di Televisi, Wartawati di Arab Dihukum Cambuk 60 Kali

RIYADH :Akibat perannya menjadi produser dalam program televisi yang membahas seks di luar nikah, seorang wartawati Arab Saudi Rosana (22), dijatuhi hukuman cambuk 60 kali oleh pengadilan di Jeddah, Sabtu (24/10) waktu setempat.

Program tersebut menjadi skandal besar di Arab Saudi ketika ditayangkan beberapa bulan lalu. Sang nara sumber Mazen Abdul Jawad, pria yang mengaku mencari wanita Saudi untuk melakukan hubungan badan sudah terlebih dulu dihukum lima tahun penjara dan dicambuk 1.000 kali, tiga temannya yang tampil di acara yang sama, masing-masing mendapat hukuman dua tahun penjara.

Program yang membuat heboh ini merupakan bagian dari seri televisi bernama Red Lines yang dibuat perusahaan televisi satelit Lebanon (LBC). Program ini membahas persoalan-persoalan tabu di dunia Arab. Misalnya soal seks di luar nikah yang dilakukan warga Arab Saudi di negara mereka.

Ditipu

Pria Saudi yang tampil dalam program ini, Mazen Abdul Jawad, membuat marah banyak orang karena ia bercerita tentang tekniknya dalam mencari wanita Saudi untuk berhubungan badan dengan mereka. Dengan berlinang air mata dia meminta maaf. Abdul Jawad mengatakan dia ditipu oleh produser acara televisi itu.

Pihak berwenang Saudi menutup kantor LBC setelah program tersebut disiarkan dan produser acara ini, yang dua-duanya wanita, diajukan ke pengadilan.

Stasiun ini sudah lama dikritik oleh para ulama Saudi karena menayangkan berbagai acara yang menampilkan penyanyi dan artis berpakaian minim ke Arab Saudi. Ironisnya salah satu pemilik LBC adalah miliarder Saudi, Pangeran Alwaleed bin Talal. ono

Ini Dia Sisi Lain Osama Bin Laden

VIVAnews – Orang mengenal Osama bin Laden sebagai buron teroris nomor wahid dunia. Jarang sekali orang mengetahui sisi lain dari kehidupan Osama.1531809326-ini-dia-sisi-lain-osama-bin-laden

Istri pertama Osama, Najwa bin Laden menguak realitas lain dari sosok yang dianggap bertanggung jawab di balik sejumlah aksi teror, termasuk aksi teror fenomenal, peledakan gedung kembar World Trade Centre, New York, pada 11 September 2001.

Seperti ditulis dalam bukunya, Najwa mengatakan Osama adalah sosok ayah yang sangat disiplin. Osama tak ragu memukul anaknya yang tersenyum sangat lebar, hingga terlihat deretan giginya.

Di sisi lain Osama punya kegemaran berkebun bunga matahari dan menganggap mobil sport laiknya istri pertamanya.

Di rumahnya, Osama mengharamkan pemakaian alat-alat elektronik. Dia juga memerintahkan anak-anak lelakinya mendaki gunung pasir di gurun tanpa membawa air. Tujuannya, agar sang anak kuat.

Bukan tanpa alasan Osama berlaku keras pada keluarganya. Itu terkait keputusan Osama untuk menyingkir ke Sudan, sebagai bentuk perlawanan pada keluarga kerajaan Arab yang mempersilakan tentara Amerika Serikat bermarkas di sana.

Belajar tidur di tempat terbuka dan tak nyaman, serta mendaki gurun pasir, bagi Osama, adalah cara dia mempersiapkan anak-anaknya menghadapi kehidupan sulit dan keras.

Najwa (saat itu 15 tahun) menikahi Bin Laden yang saat itu berusia 17 tahun. Perkawinan itu membuahkan tujuh anak lelaki dan empat anak perempuan.

Najwa bukan satu-satunya istri. Osama memiliki total enam istri yang ditempatkan di rumah-rumah terpisah di Arab Saudi dan Sudan.

Peraturan yang diberlakukan untuk keenam istrinya sama, mereka tak boleh menggunakan peralatan elektronik.

“Ayahku tak akan mengijinkan ibu untuk menyalakan pendingin udara, meski AC sudah terpasang di apartemen kami,” kata putra Osama dan Najwa, Omar, seperti dimuat laman Telegraph.

“Dia juga tak mengijinkan ibu menggunakan kulkas yang berdiri di dapur,” tambah dia.

Namun, ada satu hal dalam diri Osama yang membanggakan untuk anak-anaknya. Osama, kata Omar, jago matematika. Osama bahkan gemar menguji kecepatan hitungnya dengan kalkulator.

“Ayah saya sangat terkenal punya kemampuan hebat di matematika. Banyak yang datang ke rumah sambil membawa kalkulator dan menantang kemampuannya,” tambah Omar.

Menurut cerita Najwa, dia dan Osama pernah pergi ke Amerika Serikat pada 1979, pasca revolusi Iran. Di AS, Osama bertemu Abdullah Azzan, ulama radikal Palestina yang lantas menjadi guru spiritualnya.

Setelah itu, Osama pergi ke Afganistan, membantu kelompok perlawanan terhadap Uni Soviet. Salah satu tujuan pergi ke Afganistan, sangat romantis, agar bisa menceritakan pada anak-anaknya kisah kepahlawanannya dalam perang.

Namun, ketika kembali dari Afganistan, Osama menjadi sosok yang kaku.

Dalam buku yang ditulis Najwa, juga terungkap bahwa Osama setidaknya punya satu mobil Mercedes berwarna emas dan speedboat.

“Tak ada yang hal yang memuaskan untuk dia selain ngebut di gurun, lalu dia akan meninggalkan mobilnya dan berjalan di gurun,” kata dia.

“Hobi favoritnya adalah berkebun. Menanam jagung terbaik dan bunga matahari yang besar,” tambah Najwa.

Globalisasi Jihad Kekerasan

SETELAH Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88) berhasil menewaskan Noordin M. Top -tokoh teroris berkewarganegaraan Malaysia- pada 17 September lalu, masyarakat seperti menemukan ”kesadaran baru”. Yakni, pembatasan terhadap ruang gerak jaringan gerakan teroris tidak cukup dilakukan oleh aparat keamanan, tetapi juga masyarakat perlu dilibatkan secara lebih luas.93426large

”Kesadaran baru” itu setidaknya terlihat dari aksi penolakan masyarakat terhadap pemakaman rekan-rekan Noordin M. Top yang ikut tewas dalam penggerebekan di Mojosongo, Jebres, Solo, tiga hari menjelang Idul Fitri tersebut. Banyak pihak yang menyayangkan aksi penolakan tersebut seperti yang ditunjukkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solo (Jawa Pos, 26/9/2009). MUI Solo bahkan menilai, penolakan terhadap jenazah tersangka teroris bisa melanggar hak asasi manusia (HAM) kendati para pelaku teroris sengaja melakukan pelanggaran dari sisi HAM.

Penolakan masyarakat sebagai sebuah ”kesadaran baru” yang muncul setelah tewasnya pelaku teroris -terlepas adanya perdebatan dari sisi fiqhiyah- di satu sisi merupakan suatu indikasi penolakan masyarakat terhadap penggunaan modus kekerasan dalam memperjuangkan agama. Tetapi, di sisi lain, mengindikasikan ketidaktahuan dan ketidakberdayaan masyarakat dalam menghadapi gerakan jaringan terorisme. Masyarakat baru sadar bahwa selama ini dikelilingi kelompok teroris begitu Densus 88 melakukan penggerebekan.

Apakah mungkin mewacanakan semacam akhir sejarah terorisme (the end of history of terrorism) di Indonesia setelah beberapa aktornya dapat dilumpuhkan oleh Densus 88? Masyarakat dan bangsa dari belahan bumi mana pun pasti ingin terbebas dari ancaman terorisme. Sebagai alasan yang teramat mendasar, terorisme mengakibatkan banyak korban justru dari kalangan masyarakat sipil tidak berdosa. Hanya, yang menjadi persoalan, menghentikan pergerakan terorisme bukan pekerjaan gampang.

Baik sebagai ideologi maupun gerakan, terorisme tidak muncul secara tiba-tiba. Terorisme, di antaranya, berakar kuat pada agama. Tentu bukan agama per se, melainkan pemahaman pada doktrin agama yang mendorong lahirnya ideologi dan gerakan terorisme. Salah satu doktrin dalam Islam yang sering dijadikan pembenaran terhadap berbagai aksi teror adalah jihad. Silang sengkarut antara jihad dan aksi kekerasan yang antara lain bermodus teror coba ditelisik secara cermat oleh Farhad Khosrokhavar lewat buku berjudul Inside Jihadism: Understanding Jihadi Movements World Wide ini.

Tidak diragukan lagi, jihad merupakan salah satu doktrin paling penting dalam Islam. Karena demikian pentingnya jihad ini, kepustakaan Islam selalu menyertakan pembahasan tentang jihad. Sebagai contoh, tentu masyarakat Islam di Indonesia mengenal buku Fiqh Islam yang ditulis Sulaiman Rasyid. Buku itu terbit pada 1954. Sampai sekarang, buku teresbut terus dicetak ulang. Yang menarik, kendati sebagai buku fikih, di dalamnya juga membahas masalah jihad yang diartikan sebagai peperangan. Contoh lain adalah buku Pedoman Hidup Seorang Muslim terjemahan dari Minhaj al Muslim yang ditulis Abu Bakar Jabir al Jaza’iry. Edisi terjemahan buku itu beredar di tanah air karena merupakan salah satu di antara ribuan buku yang dihibahkan oleh pemerintah Saudi Arabia. Seperti halnya Fiqh Islam, dalam buku tersebut, al Jaza’iry juga menyertakan pembahasan tentang jihad.

Meski begitu, asasi kedudukan jihad, pemahaman terhadap jihad ternyata menimbulkan implikasi yang beragam: beberapa kalangan menerapkan jihad secara lunak (soft), sedangkan lainnya memilih jalan kekerasan dalam menerapkan jihad. Ke­lompok yang terakhir itu, oleh Khosrokhavar, dalam buku ini disebut dengan kelompok Jihadis (Jihadist group).

Sejak awal, Khosrokhavar menempatkan Jihadisme -ideologi kelompok Jihadis- sebagai varian dalam Islam yang lebih menyukai cara kekerasan dalam berjuang. Kata Khosrokhavar, “Jihadism, a radical version of Islam, is wreaking havoc in almost every part of the world. A Jihadist group is any group, small or large, for which violence is the sole credible strategy to achieve Islamic ends.”

Khosrokhavar menggunakan istilah Jihadisme, suatu ideologi yang berakar pada doktrin jihad, sebagai tipe ideal (ideal type) bagi kelompok dalam Islam yang mengutamakan kekerasan.

Buku yang ditulis guru besar sosiologi di Ecole des Hautes Erudes en Science Sociales (EHESS), Paris, Prancis, ini penting dibaca karena memberikan uraian secara memadai tentang proliferasi kelompok Jihadis serta penyebarannya, tidak hanya di belahan dunia Muslim, tetapi juga di Barat. Dengan membaca buku ini, kita bisa memahami mengapa terorisme bisa juga mencengkeram Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Dalam buku ini, Khosrokhavar melakukan telaah genealogis untuk menemukan akar sejarah Jihadisme.

Menurut Khosrokhavar, sebagai varian Islam radikal, Jihadisme bertali-temali dengan kelompok Islam radikal yang muncul lebih awal. Khosrokhavar menyebut Khawarij sebagai gelombang pertama sejarah radikalisme dalam Islam. Sikap radikal Khawarij, antara lain, terlihat pada keberanian pengikutnya yang membunuh Ali bin Abi Thalib pada 661 M. Pasca Khawarij, sejarah Islam tidak pernah sepi dari radikalisme. Khosrokhavar menyebut setidaknya empat gelombang lagi yang menandai sejarah radikalisme dalam Islam. Yaitu, Wahabisme yang berkembang pada abad ke-18. Wahabisme merupakan gelombang kedua radikalisme Islam.

Pada abad ke-19, muncul gelombang ketiga radikalisme Islam yang dimotori al Afghani dan Muhammad Abduh. Radikalisme Islam terus berkembang pada abad ke-20 yang merupakan gelombang keempat. Nama-nama yang dianggap oleh Khosrokhavar berpengaruh pada gelombang keempat adalah Hassan al Banna dan Sayyid Qutb di Mesir, al Maududi di Pakistan, serta Ali Shariati dan Ayatullah Khomeini di Iran.

Sedangkan Jihadisme, oleh Khosrokhavar, disebut sebagai gelombang kelima radikalisme Islam. Dalam gelombang kelima ini, terdapat tokoh-tokoh penting, yakni Abdullah Azzam, Abu Mohammad Maqdisi, Abu Basir al Tartusi, Abu Mus’ab al Suri, dan Abu Qatada al Filistini. Pada gelombang kelima inilah radikalisme Islam berkembang menjadi kekuatan global di mana Al Qaidah, sebagaimana dikatakan Khosrokhavar, merupakan kelompok utama yang lihai mengekspor ideologi jihad ke berbagai penjuru dunia.

Dalam pandangan Khosrokhavar, perkembangan Jihadisme perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan dampak yang membahayakan. Khosrokhavar bahkan menggunakan frase ”Islamic Pol Pot” untuk menggambarkan dampak yang akan ditimbulkan oleh Jihadisme. Suatu ungkapan yang ekstrem dan menakutkan, yang mengingatkan pada rezim Pol Pot yang membunuh sekitar dua juta warga Kamboja.

Tetapi, jika tidak menjadi ”Islamic Pol Pot”, menurut Khosrokhavar, Jihadisme berkembang seperti Taliban di Afghanistan. (*)

Syamsul Arifin, Guru besar sosiologi agama Universitas Muhammadiyah Malang

Judul Buku : Inside Jihadism: Understanding Jihadi Movements World Wide

Penulis : Farhad Khosrokhavar

Penerbit : Paradigm Publisher, Boulder

Cetakan : Pertama, 2009

Tebal : vi + 321 halaman

We are now discussing about The Prophet’s (Peace Be Upon Him) Characters and Features.

We are now discussing about The Prophet’s (Peace Be Upon Him) Characters and Features.10421_157234509495_40569674495_2598159_2775124_a

The Prophet was particularly kind to slaves. He used to say, “They are your brothers; give them to eat what you eat; give them to wear what you wear.” Whenever he received any slaves, he always gave them freedom but they could never free themselves from his kindness and generosity. They left their parents, relatives and family and regarded it as an honour to live in bondage to him. Zaid bin Hartha was a slave. Muhammad freed him and gave him the choice to go with his father, who had come to take him, but he refused to go with his father and preferred to stay. Muhammad loved Usama, son of Zaid, so much that he used to say that if he had been a girl, he would have put jewellery on her.

Slaves felt humiliated at being called slaves. He advised his companions not to say “my slave” or “my slave-girl” but to say, “my son” or “my daughter”. He also told the slaves not to call their masters “lord” for God alone was the Lord. He was so kind to slaves that his last bequest before he died was, “Fear God in the matter of slaves.” Abu Dhar was one of the converts and Muhammad praised him for his honesty. Once he abused a non-Arab slave, who complained to the Holy Prophet about this. He reprimanded Abu Dhar and said, “You are still ignorant; these slaves are your brothers. God has given you power over them; if they are not suited to your temperament, sell them. Don’t harm God’s creatures. Give them to eat what you eat; give them to wear what you wear. Don’t give them so much work that they cannot do it all. If you give them a lot of work, then give them a handto finish that work.”

Once Abu Masud Ansari was beating his slave when he heard a voice behind him say, “Abu Masud! God has more power and control over you than you have over this slave.” Abu Masud turned and saw it was God’s Messenger. He said, “O God’s Messenger! I free this slave for the pleasure of God.” Muhammad replied, “If you had not done so, the fire of Hell would have touched you.” People arranged the marriages of slaves but forcibly separated them whenever they wished. One man arranged the marriage of his slave to his slave-girl and then wanted to separate them. The slave complained to God’s Messenger, who stood up in the Mosque and -addressed the people, “Why do people marry slaves and then separate them? The right of marriage and divorce belongs only to the husband and wife.” The effect of this kindness was that many slaves of polytheists used to run away and come to him. He used to grant them freedom. When the spoils of war were distributed, slaves were given their due share. The newly freed slaves received their shares first for they did not have any capital.

Jazaak Allah Khair for reading.

sang sufi besar

by: Ophie Poetra Pandhawa

Cukup sulit untuk KITA menyelami tulisan-tulisan dari sang sufi besar Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri atau biasa disebut Jalaluddin rumi. karen di setiap bait puisinya terdapat kedalaman ilmu dan kemampuan mengungkapkan perasaannya ke dalam bahasa yang indah. Karena kedalaman ilmunya itu, puisi-puisi Rumi juga dikenal mempunyai kedalaman makna. Karya utama Jalaluddin Rumi, yang secara umum dianggap sebagai salah satu buku luar biasa di dunia, adalah Matsnawi-i-Ma’anawi (Couplets of Inner Meaning). Selain itu, ada sejumlah karya yang dibukukan seperti Percakapan informalnya (Fihi ma Fihi), surat-surat (Maktubat), Diwan dan hagiografi Manaqib al-Arifin.

Untuk memahami karya-karyanya Rumi, alangkah baiknya kita membaca langsung tulisan-tulisan Sang Sufi ini. Saya akan melampirkan sebagian karya puisi atau tulisan indah karya Beliau, semoga bisa ‘menangkap’ keindahan dan maknanya…

KARENA CINTA

Kerana cinta duri menjadi mawar
kerana cinta cuka menjelma anggur segar
Kerana cinta keuntungan menjadi mahkota penawar
Kerana cinta kemalangan menjelma keberuntungan
Kerana cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar
Kerana cinta tompokan debu kelihatan seperti taman
Kerana cinta api yang berkobar-kobar
jadi cahaya yang menyenangkan
Kerana cinta syaitan berubah menjadi bidadari
Kerana cinta batu yang keras
menjadi lembut bagaikan mentega
Kerana cinta duka menjadi riang gembira
Kerana cinta hantu berubah menjadi malaikat
Kerana cinta singa tak menakutkan seperti tikus
Kerana cinta sakit jadi sihat
Kerana cinta amarah berubah
menjadi keramah-ramahan

AKU ADALAH KEHIDUPAN, KEKESIHKU..

Apa yang dapat aku lakukan, wahai ummat Muslim?
Aku tidak mengetahui diriku sendiri.
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi,
bukan Majusi, bukan Islam.
Bukan dari Timur, maupun Barat.
Bukan dari darat, maupun laut.
Bukan dari Sumber Alam,
bukan dari surga yang berputar,
Bukan dari bumi, air, udara, maupun api;
Bukan dari singgasana, penjara, eksistensi, maupun makhluk;
Bukan dari India, Cina, Bulgaria, Saqseen;
Bukan dari kerajaan Iraq, maupun Khurasan;
Bukan dari dunia kini atau akan datang:
surga atau neraka;
Bukan dari Adam, Hawa,
taman Surgawi atau Firdaus;
Tempatku tidak bertempat,
jejakku tidak berjejak.
Baik raga maupun jiwaku: semuanya
adalah kehidupan Kekasihku …

DIA TIDAK DI TEMPAT LAIN

Salib dan ummat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.
Dia tidak di Salib.
Aku pergi ke kuil Hindu, ke pagoda kuno.
Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.
Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,
dan ke Kandahar Aku memandang.
Dia tidak di dataran tinggi
maupun dataran rendah. Dengan tegas,
aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).
Di sana cuma ada tempat tinggal
(legenda) burung Anqa.
Aku pergi ke Ka’bah di Mekkah.
Dia tidak ada di sana.
Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosuf
Dia ada di luar jangkauan Avicenna …
Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.
Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.
Dia tidak di tempat lain.

KAU DAN AKU

Nikmati waktu selagi kita duduk di punjung, Kau dan Aku;
Dalam dua bentuk dan dua wajah — dengan satu jiwa
Kau dan Aku.
Warna-warni taman dan nyanyian burung memberi obat keabadian
Seketika kita menuju ke kebun buah-buahan, Kau dan Aku.
Bintang-bintang Surga keluar memandang kita —
Kita akan menunjukkan Bulan pada mereka, Kau dan Aku.
Kau dan Aku, dengan tiada ‘Kau’ atau ‘Aku’,
akan menjadi satu melalui rasa kita;
Bahagia, aman dari omong-kosong, Kau dan Aku.
Burung nuri yang ceria dari surga akan iri pada kita —
Ketika kita akan tertawa sedemikian rupa; Kau dan Aku
Ini aneh, bahwa Kau dan Aku, di sudut sini …
Keduanya dalam satu nafas di Iraq, dan di Khurasan —
Kau dan Aku.

AKAN JADI APA DIRIKU?

Aku terus dan terus tumbuh seperti rumput
Aku telah alami tujuhratus dan tujuhpuluh bentuk.
aku mati dari mineral dan menjadi sayur-sayuran;
Dan dari sayuran Aku mati dan menjadi binatang.
Aku mati dari kebinatangan menjadi manusia.
Maka mengapa takut hilang melalui kematian?
Kelak aku akan mati
Membawa sayap dan bulu seperti malaikat:
Kemudian melambung lebih tinggi dari malaikat —
Apa yang tidak dapat kau bayangkan.
Aku akan menjadi itu.

semoga semua teman-teman resapi, dan rasakan maknanya..
dan semoga kita mendapatkan ARTI CINTA SEJATI YANG HAKIKI Amienn..