CJH Masih Disuntik Enzim Babi

JAKARTA | SURYA.CO.ID – Calon jemaah haji (CJH) Indonesia untuk tahun 2009 ini tetap tidak bisa menghindari kewajiban disuntik vaksin meningitis (radang selaput otak). Sebab, meski vaksin itu diketahui mengandung enzim babi (porchine), pemerintah Saudi masih mewajibkan penggunaannya untuk siapapun orang asing yang masuk ke negara itu, termasuk calon jemaah haji.

“Alasannya, Arab Saudi merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang menjadi kawasan berjangkitnya meningitis, sehingga setiap orang yang menunaikan ibadah haji wajib diberi vaksin tersebut. Jika tidak dilaksanakan, maka orang yang bersangkutan tidak akan diberi visa haji,” kata Sekjen Departemen Kesehatan (Depkes), Sjafii Ahmad.

Terkait dengan itu, Menteri Agama (Menag) Maftuh Basyuni mengatakan, jika ada CJH yang merasa ragu dengan vaksinasi tersebut, maka mereka menunda saja keberangkatan hajinya di tahun berikutnya, sembari menunggu kemungkinan ditemukannya vaksin itu tanpa enzim babi.

“Biar calon haji lainnya, yang sebanyak 800.000 dalam daftar tunggu, bisa terangkut,” kata Maftuh di sela-sela penjelasannya tentang Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2009/1430 H di Jakarta. Seperti diketahui, vaksinasi meningitis untuk CJH mengundang kontroversi setelah sebuah penelitian dari LPPOM MUI (Majelis Ulama Indonesia) menunjukkan bahwa vaksin yang digunakan ternyata mengandung enzim babi. Vaksin tersebut dibuat di Belgia.

Setelah penemuan itu, kehalalan vaksin tersebut kemudian dipertanyakan. Dikatakan Sjafii, sampai sejauh ini, di dunia hanya ada satu jenis vaksin meningitis yang dikeluarkan oleh perusahaan Belgia. Tak ada merek lain. Sebanyak 77 negara Muslim, termasuk di kawasan ASEAN (seperti Malaysia, Brunei dan beberapa negara lainnya) juga menggunakan vaksin yang sama untuk CJH mereka.

Ia berharap calon jemaah haji Indonesia sudah dapat diberi vaksin pada Agustus nanti. Dengan harapan pengurusan visa haji dapat dilakukan lebih cepat. “Pemberian vaksin ini dijadikan salah satu syarat memperoleh visa haji. Bila tak diindahkan, maka pemerintah Arab Saudi tak akan memberi visa,” ucapnya.
Lagi pula, pemberian vaksin ini memiliki landasan aturan internasional. Yakni jika seseorang memasuki kawasan endemik meningitis, ia harus diberi vaksin tersebut.

Sjafii berharap, Indonesia sudah akan bisa memproduksi vaksin meningitis dalam waktu tidak lama lagi. Dengan cara itu, keraguan umat Islam terhadap kehalalannya dapat dihilangkan. “Insya Allah tahun depan kita sudah bisa produksi vaksin itu,” kata Sjafii.

Sementara itu, untuk menjawab keraguan CJH, MUI Sumatra Utara (Sumut) meminta MUI Pusat segera mengeluarkan fatwa terkait kehalalan vaksin meningitis Belgia itu. “Calon jemaah haji diharapkan dapat menunggu fatwa MUI mengenai pengggunaan vaksin meningitis itu,” kata Ketua MUI Sumut, Prof Dr Abdullah Syah, MA di Medan, Jumat (10/7).

Abdullah Syah sendiri berpendapat, vaksin meningitis itu bisa saja digunakan karena situasi darurat, apalagi vaksin itu merupakan persyaratan penting yang diberlakukan Pemerintah Arab Saudi. MUI berencana mengeluarkan fatwa atas penggunaan vaksin meningitis pada pertengahan Juli 2009. “MUI akan mengambil keputusan soal penggunaan vaksin itu pertengahan Juli dan menurut penelitian kita vaksin itu memang haram,” kata Ketua MUI Pusat, Amidhan. ant

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: