Tenteramnya Ngadem di Goa Mohammad

goa-muhammad-150x150MOJOKERTO | SURYA Online – Tidak hanya makam Wali Songo yang laris dikunjungi peziarah dari berbagai daerah untuk memanjatkan doa. Goa Mohammad, terletak di sudut Kota Mojokerto tak luput dari kunjungan peziarah.

Mungkin tak banyak orang tahu jika di Dusun Losari, Desa Pekukuhan, Kecamatan Modjosari, Mojokerto terdapat goa dengan kedalaman tujuh meter dari permukaan tanah, tempat ideal memanjatkan doa dan bershalawat. Goa Mohammad, begitu warga Mojokerto menyebutnya.

Goa Mohammad ini sedikit unik, tidak seperti goa-goa lain yang terbentuk karena proses alam dengan keindahan tonjolan batu-batu stalaktit. Goa Mohammad –tersusun dari rangkaian terowongan gelap mirip labirin, murni tersusun dari bahan bangunan modern seperti batu bata, semen, dan pasir.

Di dalamnya terdapat tujuh buah pintu bawah tanah, tujuh buah mata air sumur, lima buah mushala, dua buah sendang tempat orang mandi dan menyucikan diri, dan satu buah Masjid Agung Wisnu Manunggal Rohmatullah yang letaknya tepat di bibir goa. Keseluruhannya menempati lahan seluas 1000 meter persegi.

Adalah Ki Imam Malik Djoko Sembung Satrio Mbalelo, 55, pemilik Padepokan Mayangkoro dan Pondok Pesantren Sambungsari yang mendirikannya pada 1996. “Goa Mohammad terbangun karena sebuah wahyu hasil perenungan kami bersama santri,” ujar Ki Imam Malik. Sebetulnya, bukanlah Ki Imam Malik yang memberi nama doa tersebut dengan nama Goa Mohammad. “Justru peziarah dari Rembang yang menamainya,” ucapnya.

Untuk memasuki wilayah goa ini, Anda hanya perlu menempuh perjalanan darat dari pusat Kota Mojokerto sekitar 10 kilometer. Mencapai lokasinya memang sedikit sulit lantaran tak ada penunjuk jalan tertulis seperti halnya kompleks makam Wali Songo yang telah dijadikan sebagai wisata ziarah secara resmi. Informasi yang bisa didapat hanya tersebar melalui mulut ke mulut warga setempat.

Angkutan umum juga tak ada yang menjangkau hingga lokasi. Sesampai di Jalan Raya Pekukuhan, Anda cukup membayar ojek sebesar Rp 6.000 sekali jalan. “Paling ramai peziarah goa ini setiap sasi 10 Suro,” lanjutnya. Karena pada saat itu terdapat hajat besar berupa Ruwat Puser Mojopahit di kompleks halaman luar goa. Kalau menjelang Ramadan hanya beberapa peziarah yang mampir untuk berdoa.

Tradisi yang dikembangkan para peziarah Goa Mohammad lazimnya memasuki kompleks pemakaman Wali Songo. Mereka diwajibkan berwudhu untuk menyucikan diri. Sementara bagi peziarah perempuan yang sedang menstruasi tidak diperkenankan masuk.

Arsitektur Goa Mohammad hampir tak memiliki kiblat manapun. Namun, menyiratkan sebuah akulturasi budaya Jawa Kuno dan Islam. “Kami membangunnya dari suara hati, mungkin sedikit aneh (dan asal-asalan),” timpalnya tersenyum. Pintu masuk, yang terletak di sebelah selatan bangunan masjid agung, bentuknya mirip pintu masuk Masjid Demak sisi samping.

Hampir di tiap sisi gapura dan dinding goa tertulis serangkaian filosofi Jawa dan rangkaian huruf Hijaiyyah yang intinya mengagungkan kebesaran Gusti Kang Murbeng Dumadi, serta manunggaling Kawula-Rasul-Gusti. “Harusnya kami buat dalam tiga bahasa, ditambah bahasa China. Ini karena kemakmuran sebagian besar diraih bangsa tersebut di negeri kita,” seloroh Ki Imam Malik.

Serba Perlambang
Selain berwudhu, para peziarah dalam memasuki goa tersebut akan dipandu membaca Shalawat Nabi sepanjang berjalan di dalam terowongan. Para santri dengan membawa lilin akan memandu para peziarah, mulai membaca shalawat Nabi, berdoa di tiap mushalla, menyucikan diri di dalam sendang hingga meminum air sumur.

“Mata air sumur tersebut yang lancar mengalir sebetulnya hanya lima, yang satu lagi pernah mengalir tapi entah mengapa beberapa waktu lalu terhenti. Mata air yang satu lagi diprediksi akan muncul di tempat tak terduga sesuai kehendak Gusti Allah,” lanjut M Toha, salah satu santri pemandu dalam Ponpes Sambungsari.

Angka tujuh yang mencerminkan mata air memiliki filosofi tujuh tingkatan langit, angka lima yang mencerminkan jumlah mushalla memiliki filosofi Rukun Islam, sedangkan angka dua yang mencerminkan sendang punya filosofi pasangan Rasul dan Allah. Angka satu yang mencerminkan jumlah masjid berfilosofi keesaan Allah.

“Goa Mohammad sengaja dibangun di bawah tanah untuk tempat berdoa agar ketika kita merenung dan berdoa kita dapat benar-benar meresapi mati sajroning urip lan urip sajroning mati,” jelasnya. Dengan merenung dan berdoa, diharapkan manusia dapat panutan lebih baik. “Tidak seperti sekarang, setiap orang saling menyalahkan orang lain. Mengapa tidak saling mencari kebenaran bersama, bukan adu bener ning ora podo rumongso,” lanjut Ki Imam Malik.

Berziarah ke Goa Mohammad, jangan Anda bayangkan akan ’semeriah’ tempat-tempat makam Wali Songo maupun goa-goa lain yang telah dikemas sebagai paket wisata. Nuansanya jauh dari itu! Hanya kesamaannya sangat lekat dengan kesakralan. Anda tak cuma diajak bertapa tapi juga berdoa. dwi pramesti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: