Fordsburg, Kawasan Muslim di Johannesburg, Afsel

Makanan Bersertifikat Halal, Wanita Berjilbab Dihormati

Toleransi kehidupan beragama di Johannesburg sangat tinggi. Hal itu terlihat di Fordsburg. Meski minoritas, muslim di kawasan itu hidup damai dengan warga pribumi.

WAKTU menunjukkan pukul 11 siang waktu setempat atau 16.00 WIB. Dua remaja berjilbab berjalan tenang di pedestrian. Di salah satu sisi jalan ada toko daging bertulisan halal. Masuk ke kawasan Fordsburg, tampak sebuah masjid kubah hijau dengan menara menjulang tinggi, berdiri kukuh di tengah pemukiman dan pertokoan. ”Ini memang kawasan muslim,” kata George, sopir taksi yang dinaiki Jawa Pos.

Kawasan Fordsburg hanya 15 menit dari pusat kota Johannesburg. Menurut George, wilayah ini sudah lama ada di Johannesburg. George kemudian mengantarkan kami untuk singgah di Oriental Plaza yang letaknya berdekatan dengan masjid yang kami lalui tersebut. Sebuah menara berkubah dan bangku untuk bersantai tampak ketika kami memasuki Oriental Plaza.

Lantunan suara ayat suci Alquran terdengar dari menara tersebut. Suara itu semakin kencang ketika langkah kaki kami mendekat ke sebuah tenant di pelataran bagian dalam Kompleks Oriental Plaza. Di dalam tenant, terdapat lukisan dan hiasan kaligrafi Arab yang dipajang di rak.

Pemilik gerai di plasa itu mayoritas berwajah India dan Timur Tengah. Sedangkan para pegawai kebanyakan penduduk pribumi kulit hitam. Peraturan di sana memang mengharuskan pemilik toko untuk mempekerjakan orang pribumi.

Di dalam Kompleks Oriental Plaza mudah ditemui gerai makanan yang menjual menu sehat dan halal. ”Saya garansi, daerah Fordsburg dan sekitarnya 99 persen muslim. Makanan yang dijual di sini sudah mendapat sertifikat halal,” kata M.A. Sackoor, asisten general manajer Oriental Plaza, kepada Jawa Pos di ruang kerjanya.

Sackoor mengaku beruntung menemukan kawasan muslim di daerah Fordsburg. Pria asal India itu menjelaskan, kehidupan beragama antara kaum muslim dengan warga lain di Fordsburg tidak ada masalah. ”Sejauh ini tidak ada masalah. Kami bersahabat dan hidup damai,” tuturnya.

Menurut Sackoor, ada 12 masjid yang tersebar di Fordsburg dan sekitarnya. Masjid-masjid itu pun sangat terawat. ”Ada 12 masjid di sekitar area ini. Jadwal salat di Johannesburg sama dengan waktu Arab,” katanya.

Kawasan Fordsburg memang kental dengan suasana muslim. Bahkan, pemilik tenant yang menyewa di Oriental Plaza pun mayoritas muslim. Hal itu tampak dari wajah, pakaian serta aksesoris yang melekat di badan. Bila dilihat dari wajah, mayoritas kaum muslim di Fordsburg berasal dari India. Kaum pria rata-rata memelihara jenggot. Dalam aktifitas kehidupan sehari-hari, mereka memakai baju gamis dipadu celana panjang. Plus kopiah yang menutupi kepala.

Sedangkan kaum muslimah mayoritas memakai jilbab yang menutupi rambut hingga badan. Ada juga kaum hawa yang tidak mengenakan jilbab, tapi tetap berpakaian yang menutupi aurat. Mereka berbaur dengan warga pribumi yang non muslim.

”Warga pribumi di Fordsburg bersikap baik kepada kami. Itu yang membuat kami merasa aman di sini,” kata Sharifah, gadis asal India yang menetap bersama keluarganya di Fordsburg.

Selain Fordsburg, kawasan muslim juga ada di Marlboro. Mayoritas penduduk di kawasan Marlboro adalah warga muslim keturunan India. ”Sekitar 90 persen warga di Marlboro dan sekitarnya muslim,” kata Zaid, pria asal Malaysia keturunan Indonesia. (*/ca)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: