Nilai Perbuatan Baik

20090608173403

Ukuran kualitas iman seseorang, sebagaimana difirmankan Allah dalam Alquran, adalah ahsanu ‘amalan bukan aktsaru ‘amalan (yang terbaik perbuatannya bukan yang terbanyak perbuatannya). Beberapa hadis dalam kitab hadis Sahih Bukhari menyatakan bahwa iman itu ucapan yang disertai perbuatan. Iman dapat berkurang dan bertambah. Dalam beberapa ayat Alquran, kata iman selalu berpadanan dengan amal saleh, sehingga tidak mungkin orang yang beriman tidak beramal saleh. Allah SWT berfirman: ”(Tetapi) orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (Q.S. 84: 25).

Dalam ayat lain, Allah SWT berjanji: ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah keberuntungan yang besar.” (Q. S. 85: 11). Lalu dalam surat Al-‘Ashr, ayat 2 dan 3 juga dinyatakan: ”Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan….”

Karena iman itu bisa bertambah dan berkurang, ia bukan sekadar perkara niat yang bersemayam di dalam hati dan sulit diukur (bertambah dan berkurangnya), tetapi konkret dalam amal perbuatan yang bisa diukur, atau muncul dalam bentuk akhlak yang baik. Wujud iman dalam perbuatan mempunyai dua dimensi. Dimensi pertama melihat hubungan suatu perbuatan dengan pelaku, digerakkan oleh faktor psikologis (niat). Sementara dimensi yang kedua melihat kegunaan suatu perbuatan dalam kehidupan manusia (manfaat).

Karena itu pernyataan bahwa segala sesuatu tergantung dari niatnya, mempunyai pengertian sesuatu yang bermanfaat belum tentu lahir dari niat yang suci murni. Tapi niat yang suci bersih selalu berusaha mewujudkan ahsanu ‘amalan. Hendaklah kiprah kita dalam kehidupan sehari-hari, baik yang bersifat individu (seperti, makan, minum, mencari nafkah, menuntut ilmu dll.) maupun yang bersifat sosial (seperti, menolong orang lain, ikut menanggulangi kebodohan, kemiskinan, melepaskan dari belenggu ketertindasan, dst.), jangan hanya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan asas manfaat, tapi harus dilandasi oleh niat yang tulus ikhlas.

Hanya dengan itu, kita akan terhindar dari gagah-gagahan, megah-megahan, pintar-pintaran, mencari pangkat, kedudukan dan popularitas, serta motivasi-motivasi rendah lainnya yang bersifat materialistis. Sebab iman dan amal saleh seperti yang disebutkan dalam nash-nash Alquran dan As-Sunnah, menunjukkan bahwa niat suatu perbuatan adalah rohnya, dan rohnya amal saleh adalah ikhlas. Allah berfirman: ”Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (Q. S. 35: 10). – ahi

By Noor Fatah
Senin, 08 Juni 2009 pukul 17:34:00

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: