Alfaro: Alquran Benar dari Allah

20090622123059Tiga belas tahun yang lalu, Vicente Mota Alfaro adalah seorang Katolik taat yang rutin menghadiri missa Mingguan dan membaca Alkitab setiap hari. Hari ini, dia tidak hanya menjadi mualaf, tapi juga menjadi imam masjid di Pusat Kebudayaan Islam Valencia (CCIV).

Alfaro adalah mualaf pertama yang menjadi pemimpin jemaah Muslim di masjid Spanyol. Dia juga telah menjadi anggota Dewan Direksi dari CCIV sejak tahun 2005.

Tokoh masyarakat Muslim di Valencia mengatakan Alfaro diangkat imam berdasarkan kualifikasi.

“Dia dipilih karena dia banyak pengetahuan agama,” kata El-Taher Edda, sekjen Dewan Islam untuk Dialog dan Kebersamaan, kepada IslamOnline.net.

Saat ini jumlah mualaf di Spanyol meningkat drastis, sebagaimana dilaporkan oleh media lokal bahwa kaum terpelajar, akademisi dan aktivis anti-globalisasi banyak yang memutuskan masuk Islam.

Populasi Muslim di Spayol saat ini diperkirakan sekitar 1,5 juta dari total populasi sebesar 40 juta. Islam adalah agama kedua setelah Kristen dan telah diakui melalui hukum kebebasan agama, yang dikeluarkan pada bulan Juli 1967.

Perjalanan Spiritual Alfaro

Ketika orang bertanya kepada Alfaro tentang perubahan hati dan perpindahan dari Kristen ke Islam, dia memberikan jawaban yang sederhana.

“Allah ingin Islam menjadi pilihan saya dan hidup saya,” jawab Alfaro tegas

Ketika memutuskan untuk menjadi seorang Muslim, Alfaro masih berusia 20 tahun dan masih sebagai pelajar sekolah menengah atas.

“Saya membaca Alquran, dan saya menemukan cerita yang sebenarnya tentang Yesus, kemudian saya memtuskan masuk Islam,” paparnya.

Mengenang masa-masa pencariannya, Alfaro mengaku dulu adalah penganut Katolik yang taat.

“Berbeda dengan kebanyakan teman-teman saya yang tidak tertarik kepada masalah agama, saya justru rajin pergi ke gereja setiap hari Minggu dan rutin membaca Alkitab.

“Pada waktu itu, saya benar-benar tidak tahu tentang Islam.”

Percakapannya dengan tetangganya, seorang Muslim Aljazair, telah mengenalkan Alfaro kepada Islam.

“Suatu kali kami bercakap-cakap, dan ia mengatakan bahwa semua manusia adalah keturunan Adam dan Hawa, dan bahwa kita semua anak-anak Nabi Ibrahim (Ibrahim),” kisahnya.

“Saya terkejut menemukan bahwa Islam dan Arab sebenarnya tahu Adam, Hawa dan Abraham.”

Percakapan tersebut telah motivasi pemuda Katolik ini untuk menggali lebih dalam informasi tentang Islam.

“Selanjutnya yang saya lakukan adalah pergi ke perpustakaan dan meminjam terjemahan Alquran.”

Ia membawa pulang Alquran tersebut ke rumah dan mulai membacanya secara hati-hati.

Perubahan pun terjadi, ketika Alfaro membaca dalam Alquran cerita tentang Yesus dan peristiwa penyaliban.

“Aku biasa membaca dalam Injil bahwa Yesus adalah anak Allah, dan bahwa Allah telah mengutus anaknya ke bumi untuk dibunuh dan disiksa guna membawa keselamatan kepada manusia. Inilah yang selalu menjadi ganjalan bagi saya, doktrin yang sulit untuk saya yakini.” kenang Alfaro.

“Saya menemukan jawaban yang saya cari justru ketika saya membaca Alquran. Saya belajar bahwa Yesus tidak dibunuh atau disalib.”

Muslim percaya kepada Yesus as sebagai salah satu nabi besar utusan Tuhan dan dan menempatkannya pada posisi terhormat.

Adapun penyaliban itu, umat Islam percaya bahwa Yesus tidak disalib namun diangkat ke langit.

Muslim percaya bahwa Yesus akan datang kembali ke bumi sebelum hari kiamat untuk memulihkan perdamaian dan ketertiban, melawan Dajjal (anti Kristus) dan membawa kemenangan bagi kebenaran dan keadilan.

Cerita Nabi Yesus dalam Alquran telah menyentuh hati Alfaro, yang saat ini telah berganti nama menjadi Mansour.

“Saya langsung tahu bahwa Alquran adalah kitab yang benar dari Allah. Dan saya memutuskan pada saat itu bahwa saya sangat ingin menjadi seorang Muslim,” papar Alfaro.taq/iol

Meningkatkan Cinta Anak pada Allah

Di tengah kesibukan anak mengikuti berbagai pelajaran tambahan seperti les piano, les tari atau berbagai kegiatan bakat lainnya, apakah anak Anda memiliki waktu untuk lebih mengenal alam? Mengenalkan alam pada anak dapat meningkatkan kesadaran mereka akan kebesaran Allah SWT selain itu juga dapat memperkuat iman.

Kapan terakhir kali Anda mengajak anak pergi ke luar untuk menikmati suasana pegunungan atau pedesaan? Apakah anda pernah membuat ciptaan Allah SWT menjadi tampak lebih menarik bagi anak-anak? Berikut ada sepuluh saran agar anak lebih mencintai alam dan pencipta-Nya.

* Mengunjungi tanah pertanian. Kebanyakan kita tidak terlalu peduli bagaimana padi bisa menjadiberas. Makanan yang terhidang di meja saji lah yang justrumenghampiri kita melewati bermil-mil perjalanan. Anak-anak hanya bisa membayangkan bagaimana jeruk berbuah di pohon atau ayam mengerami telurnya. Sayang sekali anak-anak tidak melihat tanaman tumbuh dan sapi memakan rumput, mereka tidak bisa memahami keajaiban dan keberkahan makanan. Bagaimana anak dapat melihat kebesaran Allah SWT jika mereka belum pernah melihat tanaman tumbuh dan memproduksi makanan?
* Mengunjungi tempat pembuangan sampah. Kita seringkali melemparkan sesuatu ke dalam tong sampah tanpa berpikir kemana sampah-sampah itu dibawa atau apa yang akan terjadiseterusnya. Ajaklah anak mengunjungi tempat akhir pembuangan sampah. Sebutkan juga beberapa tempat akhir pembuangan sampah. Anak-anak Anda mungkin akan terkejut dengan banyaknya sampah yang dihasilkan setiap hari. Dengan begitu anak akan lebih mengahargai alam dengan. Mengingatkan mereka bahwa Allah memberitahu kita untukjangan terlalu banyak memproduksi sampah. Seperti yang di firmankan Allah SWT, “makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. 7:31)
* Bertanam. Buatlah taman di rumah. Ajak anak untuk menanam tumbuhan. Tidak ada cara yang lebih baik untuk bisa berhubungan dengan alam daripada menggali dan menjadi kotor. Mereka akan sangat bangga dengan prestasi yang mereka raih melihat hasil bercocok tanam mereka.
* Membuat kompos. Dengan membuat kompos anak dapat mengetahui siklus kehidupan. Membuat kompos dapat mengajarkan anak mencintai lingkungan.
* Mengamati mahkluk hidup. Berjalan-jalan di alam bersama anak dan melakukan pengamatan secara sederhana. Bagaimana cacing bergerak dan menghitung kelopak bunga. Ungkapkan keindahan dan keajaiban akan ciptaan Allah SWT.
* Mengamati langit. Berjalan-jalan di tengah kota saat malam hari, melihat bintang bersinar. Sebagian besar anak akan terkesima dengan kilauan bintang yang terlihat meski dari jarak yang sangat jauh. Ceritakan pada anak bagaimana penciptaan bintang, seberapa jauh bintang berada dan seberapa luas penciptaan Allah.
* Mengamati cuaca. Pergi ke luar rumah untk merasakan berbagai cuaca. Hujan, panas atau angin yang bertiup kencang. Ajarkan doa-doa yang diucapkansaat cuaca hujan, panas atau berangin. Ceritakan kemuliaan AllahSWT telah menciptakan berbagai fenomena alam.
* Mengamati air. Mengamati sungai atau air terjun. Perhatikan ritme, kesejukan, dan keindahan gerakan air yang menciptakan suasana hati yang sempurna untuk mencerminkan syukur pada ciptaan Allah. Berbicara dengan anak-anak tentang bagaimana Allah mengatur siklus air dari tanah ke langit dan kembali ke bumi untu dimanfaatkan oleh manusia.
* Mengamati daun. Tunjukan pada anak perubahan warna daun saat masih berada di ranting dan saat telah gugur. tantang anak untuk menggambarkan dan mendiskusikan betapa manusia tidak akan mampu membuat sesuatu yang lebih indah dari ciptaan Allah SWT.
* Berkemah. Pengalaman hidup di luar rumah ditemani suara serangga, burung atau binatang lainnya dapat menumbuhkan rasa natural anak. Memasak, mencuci dan tidur di luar akan membawa anak lebih mengenal Allah Tanpa diganggu oleh alat-alat elektronik. Gunakan kreatifitas Anda untuk mengenalkan kekuasaan Allah melalui alam pada anak. (iol/cr1/rin)

Tenteramnya Ngadem di Goa Mohammad

goa-muhammad-150x150MOJOKERTO | SURYA Online – Tidak hanya makam Wali Songo yang laris dikunjungi peziarah dari berbagai daerah untuk memanjatkan doa. Goa Mohammad, terletak di sudut Kota Mojokerto tak luput dari kunjungan peziarah.

Mungkin tak banyak orang tahu jika di Dusun Losari, Desa Pekukuhan, Kecamatan Modjosari, Mojokerto terdapat goa dengan kedalaman tujuh meter dari permukaan tanah, tempat ideal memanjatkan doa dan bershalawat. Goa Mohammad, begitu warga Mojokerto menyebutnya.

Goa Mohammad ini sedikit unik, tidak seperti goa-goa lain yang terbentuk karena proses alam dengan keindahan tonjolan batu-batu stalaktit. Goa Mohammad –tersusun dari rangkaian terowongan gelap mirip labirin, murni tersusun dari bahan bangunan modern seperti batu bata, semen, dan pasir.

Di dalamnya terdapat tujuh buah pintu bawah tanah, tujuh buah mata air sumur, lima buah mushala, dua buah sendang tempat orang mandi dan menyucikan diri, dan satu buah Masjid Agung Wisnu Manunggal Rohmatullah yang letaknya tepat di bibir goa. Keseluruhannya menempati lahan seluas 1000 meter persegi.

Adalah Ki Imam Malik Djoko Sembung Satrio Mbalelo, 55, pemilik Padepokan Mayangkoro dan Pondok Pesantren Sambungsari yang mendirikannya pada 1996. “Goa Mohammad terbangun karena sebuah wahyu hasil perenungan kami bersama santri,” ujar Ki Imam Malik. Sebetulnya, bukanlah Ki Imam Malik yang memberi nama doa tersebut dengan nama Goa Mohammad. “Justru peziarah dari Rembang yang menamainya,” ucapnya.

Untuk memasuki wilayah goa ini, Anda hanya perlu menempuh perjalanan darat dari pusat Kota Mojokerto sekitar 10 kilometer. Mencapai lokasinya memang sedikit sulit lantaran tak ada penunjuk jalan tertulis seperti halnya kompleks makam Wali Songo yang telah dijadikan sebagai wisata ziarah secara resmi. Informasi yang bisa didapat hanya tersebar melalui mulut ke mulut warga setempat.

Angkutan umum juga tak ada yang menjangkau hingga lokasi. Sesampai di Jalan Raya Pekukuhan, Anda cukup membayar ojek sebesar Rp 6.000 sekali jalan. “Paling ramai peziarah goa ini setiap sasi 10 Suro,” lanjutnya. Karena pada saat itu terdapat hajat besar berupa Ruwat Puser Mojopahit di kompleks halaman luar goa. Kalau menjelang Ramadan hanya beberapa peziarah yang mampir untuk berdoa.

Tradisi yang dikembangkan para peziarah Goa Mohammad lazimnya memasuki kompleks pemakaman Wali Songo. Mereka diwajibkan berwudhu untuk menyucikan diri. Sementara bagi peziarah perempuan yang sedang menstruasi tidak diperkenankan masuk.

Arsitektur Goa Mohammad hampir tak memiliki kiblat manapun. Namun, menyiratkan sebuah akulturasi budaya Jawa Kuno dan Islam. “Kami membangunnya dari suara hati, mungkin sedikit aneh (dan asal-asalan),” timpalnya tersenyum. Pintu masuk, yang terletak di sebelah selatan bangunan masjid agung, bentuknya mirip pintu masuk Masjid Demak sisi samping.

Hampir di tiap sisi gapura dan dinding goa tertulis serangkaian filosofi Jawa dan rangkaian huruf Hijaiyyah yang intinya mengagungkan kebesaran Gusti Kang Murbeng Dumadi, serta manunggaling Kawula-Rasul-Gusti. “Harusnya kami buat dalam tiga bahasa, ditambah bahasa China. Ini karena kemakmuran sebagian besar diraih bangsa tersebut di negeri kita,” seloroh Ki Imam Malik.

Serba Perlambang
Selain berwudhu, para peziarah dalam memasuki goa tersebut akan dipandu membaca Shalawat Nabi sepanjang berjalan di dalam terowongan. Para santri dengan membawa lilin akan memandu para peziarah, mulai membaca shalawat Nabi, berdoa di tiap mushalla, menyucikan diri di dalam sendang hingga meminum air sumur.

“Mata air sumur tersebut yang lancar mengalir sebetulnya hanya lima, yang satu lagi pernah mengalir tapi entah mengapa beberapa waktu lalu terhenti. Mata air yang satu lagi diprediksi akan muncul di tempat tak terduga sesuai kehendak Gusti Allah,” lanjut M Toha, salah satu santri pemandu dalam Ponpes Sambungsari.

Angka tujuh yang mencerminkan mata air memiliki filosofi tujuh tingkatan langit, angka lima yang mencerminkan jumlah mushalla memiliki filosofi Rukun Islam, sedangkan angka dua yang mencerminkan sendang punya filosofi pasangan Rasul dan Allah. Angka satu yang mencerminkan jumlah masjid berfilosofi keesaan Allah.

“Goa Mohammad sengaja dibangun di bawah tanah untuk tempat berdoa agar ketika kita merenung dan berdoa kita dapat benar-benar meresapi mati sajroning urip lan urip sajroning mati,” jelasnya. Dengan merenung dan berdoa, diharapkan manusia dapat panutan lebih baik. “Tidak seperti sekarang, setiap orang saling menyalahkan orang lain. Mengapa tidak saling mencari kebenaran bersama, bukan adu bener ning ora podo rumongso,” lanjut Ki Imam Malik.

Berziarah ke Goa Mohammad, jangan Anda bayangkan akan ’semeriah’ tempat-tempat makam Wali Songo maupun goa-goa lain yang telah dikemas sebagai paket wisata. Nuansanya jauh dari itu! Hanya kesamaannya sangat lekat dengan kesakralan. Anda tak cuma diajak bertapa tapi juga berdoa. dwi pramesti

“Hentikan Protes, Kami Tidak Akan Tunduk”

By Elin Yunita Kristanti, Harriska Farida Adiati Viva News – Sabtu, Juni 20VIVAnews –agogweqt4

Pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Ali Khamenei menyerukan agar krisis politik dan keamanan pasca pemilihan presiden Iran segera diakhiri. Khomaeni juga menyatakan dukungannya atas pemilu yang memenangkan Mahmoud Ahmadinejad dan memperingatkan pemimpin oposisi, mereka bertanggungjawab jika terjadi pertumpahan darah dan kekacauan.

ADVERTISEMENT

“Mereka akan dimintai pertanggungjawaban jika terjadi kekerasan, pertumpahan darah, dan kekacauan,” kata Khamenei di hadapan jamaah Salat Jumat di Universitas Teheran, Jumat 19 Juni 2009. Dalam pidatonya Khamenei juga mengecam tindakan aparat keamanan, yang menurutnya telah bertindak di luar batas dengan melakukan penyerangan kepada para mahasiswa.

Pemerintah Iran, kata Khomaeni bergeming dari protes. “Aksi jalanan dilakukan untuk menekan pemimpin, tetapi kami tidak akan tunduk di hadapan mereka,” kata Khamanei.

Dia mengatakan, semua keraguan terkait pemilihan kembali Mahmoud Ahmadinejad sebagai presiden dalam pemilihan 12 Juni lalu akan diselidiki melalui jalur hukum. Jika pendukung atau kandidat yang kalah tidak bisa menghentikan protes, Khamanei mengatakan, mereka harus bertanggung jawab atas semua konsekuensi, dan konsekuensi dari segala bentuk kekacauan.

Pidato yang dilakukan Khamanei kemarin jarang terjadi karena biasanya Khamanei hanya berbicara di depan publik di akhir bulan Ramadan dan perayaan revolusi Iran.

Iran berada dalam konflik setelah calon incumbent Mahmoud Ahmadinejad dinyatakan memenangi pemilihan dengan mengantongi 62,63 persen suara. Lawan-lawannya menuding ada kecurangan dalam proses penghitungan suara dan menyebabkan gelombang demonstrasi terbesar sejak Revolusi Iran.

Puluhan ribu orang pro pemerintah maupun oposisi turun ke jalan pasca hasil pemilu Iran diumumkan. Aksi demonstrasi itu berubah menjadi rusuh dan makan korban, stasiun radio Iran mengabarkan, tujuh orang tewas dalam demonstrasi di Teheran, Iran, Senin 15 Juni 2009.

Fordsburg, Kawasan Muslim di Johannesburg, Afsel

Makanan Bersertifikat Halal, Wanita Berjilbab Dihormati

Toleransi kehidupan beragama di Johannesburg sangat tinggi. Hal itu terlihat di Fordsburg. Meski minoritas, muslim di kawasan itu hidup damai dengan warga pribumi.

WAKTU menunjukkan pukul 11 siang waktu setempat atau 16.00 WIB. Dua remaja berjilbab berjalan tenang di pedestrian. Di salah satu sisi jalan ada toko daging bertulisan halal. Masuk ke kawasan Fordsburg, tampak sebuah masjid kubah hijau dengan menara menjulang tinggi, berdiri kukuh di tengah pemukiman dan pertokoan. ”Ini memang kawasan muslim,” kata George, sopir taksi yang dinaiki Jawa Pos.

Kawasan Fordsburg hanya 15 menit dari pusat kota Johannesburg. Menurut George, wilayah ini sudah lama ada di Johannesburg. George kemudian mengantarkan kami untuk singgah di Oriental Plaza yang letaknya berdekatan dengan masjid yang kami lalui tersebut. Sebuah menara berkubah dan bangku untuk bersantai tampak ketika kami memasuki Oriental Plaza.

Lantunan suara ayat suci Alquran terdengar dari menara tersebut. Suara itu semakin kencang ketika langkah kaki kami mendekat ke sebuah tenant di pelataran bagian dalam Kompleks Oriental Plaza. Di dalam tenant, terdapat lukisan dan hiasan kaligrafi Arab yang dipajang di rak.

Pemilik gerai di plasa itu mayoritas berwajah India dan Timur Tengah. Sedangkan para pegawai kebanyakan penduduk pribumi kulit hitam. Peraturan di sana memang mengharuskan pemilik toko untuk mempekerjakan orang pribumi.

Di dalam Kompleks Oriental Plaza mudah ditemui gerai makanan yang menjual menu sehat dan halal. ”Saya garansi, daerah Fordsburg dan sekitarnya 99 persen muslim. Makanan yang dijual di sini sudah mendapat sertifikat halal,” kata M.A. Sackoor, asisten general manajer Oriental Plaza, kepada Jawa Pos di ruang kerjanya.

Sackoor mengaku beruntung menemukan kawasan muslim di daerah Fordsburg. Pria asal India itu menjelaskan, kehidupan beragama antara kaum muslim dengan warga lain di Fordsburg tidak ada masalah. ”Sejauh ini tidak ada masalah. Kami bersahabat dan hidup damai,” tuturnya.

Menurut Sackoor, ada 12 masjid yang tersebar di Fordsburg dan sekitarnya. Masjid-masjid itu pun sangat terawat. ”Ada 12 masjid di sekitar area ini. Jadwal salat di Johannesburg sama dengan waktu Arab,” katanya.

Kawasan Fordsburg memang kental dengan suasana muslim. Bahkan, pemilik tenant yang menyewa di Oriental Plaza pun mayoritas muslim. Hal itu tampak dari wajah, pakaian serta aksesoris yang melekat di badan. Bila dilihat dari wajah, mayoritas kaum muslim di Fordsburg berasal dari India. Kaum pria rata-rata memelihara jenggot. Dalam aktifitas kehidupan sehari-hari, mereka memakai baju gamis dipadu celana panjang. Plus kopiah yang menutupi kepala.

Sedangkan kaum muslimah mayoritas memakai jilbab yang menutupi rambut hingga badan. Ada juga kaum hawa yang tidak mengenakan jilbab, tapi tetap berpakaian yang menutupi aurat. Mereka berbaur dengan warga pribumi yang non muslim.

”Warga pribumi di Fordsburg bersikap baik kepada kami. Itu yang membuat kami merasa aman di sini,” kata Sharifah, gadis asal India yang menetap bersama keluarganya di Fordsburg.

Selain Fordsburg, kawasan muslim juga ada di Marlboro. Mayoritas penduduk di kawasan Marlboro adalah warga muslim keturunan India. ”Sekitar 90 persen warga di Marlboro dan sekitarnya muslim,” kata Zaid, pria asal Malaysia keturunan Indonesia. (*/ca)

MUI: Jangan “Jual” Ayat Al-Quran untuk Kampanye

JAKARTA | SURYA Online – Majelis Ulama Indonesia (MUI), meminta para capres/cawapres serta tim kampanye jangan “menjual” ayat-ayat Al-Quran demi kepentingan kampanye pilpres.

“Ayat Al-Quran jangan dijadikan komoditas politik, harus ditempatkan sesuai peruntukannya,” kata Ketua MUI Pusat KH Amidan usai menyampaikan seruan bersama pimpinan ormas Islam di Kantor Pusat Muhammadiyah Jakarta, Selasa (2/6).

Menurut Amidan, kalau ayat Quran tersebut disampaikan sesuai dengan tempatnya misalkan menyerukan agar semua umat Islam harus mentaati perintah Allah SWT, kepada rasulnya dan kepada pimpinan atau pemerintah, karena pemilu itu merupakan bagian dari pelaksanaan ayat Quran itu tadi.

Namun, jika menjual ayat-ayat Al Quran itu untuk komoditas politik dan kepentingan sesaat bagi kelompok atau golongan tertentu pada saat kampanye, maka hal itu yang tidak boleh dilakukan.

Selain itu, Amidan juga meminta para tim kampanye capres dan cawapres jangan menjadikan isu-isu yang berkaitan dengan kelompok, etnis, agama atau golongan tertentu sebagai alat untuk kepentingan kampanye apalagi untuk menyerang salah satu calon tertentu.

“Kampanye sehat itu mengkritisi program masing-masing, bukan malah mengkritisi atau menyerang orang lain,” kata Amidan.

Ia juga menilai, sudah ada indikasi salah satu anggota tim kampanye calon yang menjadikan isu-isu kelompok etnis atau rasis tertentu disampaikan sebagai alat kampanye.

Oleh sebab itu, Amidan menegaskan, pihaknya sangat menyayangkan pernyataan tersebut dan sudah meminta kepada ketua tim kampanye agar mereka yang menyampaikan pernyataan itu agar dikeluarkan dari timnya.

“Pernyataan itu berbau rasis, berarti menolak keragaman dan itu bisa memancing isu-isu lain,” katanya.

Dalam seruan sejumlah ormas Islam di Kantor Pusat Muhammadiyah mendesak agar capres dan cawapres serta tim sukses masing-masing bersaing secara sehat dengan mengindahkan etika agama serta tidak melakukan kampanye hitam (black campaign).

Hadir pula dalam kesempatan tersebut, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin, Ketua PB Mathlaul Anwar Irsyad Djuwaeli dan pimpinan puluhan ormas Islam lainnya. ant

Nilai Perbuatan Baik

20090608173403

Ukuran kualitas iman seseorang, sebagaimana difirmankan Allah dalam Alquran, adalah ahsanu ‘amalan bukan aktsaru ‘amalan (yang terbaik perbuatannya bukan yang terbanyak perbuatannya). Beberapa hadis dalam kitab hadis Sahih Bukhari menyatakan bahwa iman itu ucapan yang disertai perbuatan. Iman dapat berkurang dan bertambah. Dalam beberapa ayat Alquran, kata iman selalu berpadanan dengan amal saleh, sehingga tidak mungkin orang yang beriman tidak beramal saleh. Allah SWT berfirman: ”(Tetapi) orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putusnya.” (Q.S. 84: 25).

Dalam ayat lain, Allah SWT berjanji: ”Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah keberuntungan yang besar.” (Q. S. 85: 11). Lalu dalam surat Al-‘Ashr, ayat 2 dan 3 juga dinyatakan: ”Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan….”

Karena iman itu bisa bertambah dan berkurang, ia bukan sekadar perkara niat yang bersemayam di dalam hati dan sulit diukur (bertambah dan berkurangnya), tetapi konkret dalam amal perbuatan yang bisa diukur, atau muncul dalam bentuk akhlak yang baik. Wujud iman dalam perbuatan mempunyai dua dimensi. Dimensi pertama melihat hubungan suatu perbuatan dengan pelaku, digerakkan oleh faktor psikologis (niat). Sementara dimensi yang kedua melihat kegunaan suatu perbuatan dalam kehidupan manusia (manfaat).

Karena itu pernyataan bahwa segala sesuatu tergantung dari niatnya, mempunyai pengertian sesuatu yang bermanfaat belum tentu lahir dari niat yang suci murni. Tapi niat yang suci bersih selalu berusaha mewujudkan ahsanu ‘amalan. Hendaklah kiprah kita dalam kehidupan sehari-hari, baik yang bersifat individu (seperti, makan, minum, mencari nafkah, menuntut ilmu dll.) maupun yang bersifat sosial (seperti, menolong orang lain, ikut menanggulangi kebodohan, kemiskinan, melepaskan dari belenggu ketertindasan, dst.), jangan hanya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan asas manfaat, tapi harus dilandasi oleh niat yang tulus ikhlas.

Hanya dengan itu, kita akan terhindar dari gagah-gagahan, megah-megahan, pintar-pintaran, mencari pangkat, kedudukan dan popularitas, serta motivasi-motivasi rendah lainnya yang bersifat materialistis. Sebab iman dan amal saleh seperti yang disebutkan dalam nash-nash Alquran dan As-Sunnah, menunjukkan bahwa niat suatu perbuatan adalah rohnya, dan rohnya amal saleh adalah ikhlas. Allah berfirman: ”Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (Q. S. 35: 10). – ahi

By Noor Fatah
Senin, 08 Juni 2009 pukul 17:34:00